-->

Diary Horor [Penakut Jangan Masuk]

Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :

1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.

2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.

Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain

Prologue-Part 1


3 September 2010

Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..

Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)

Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..

Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..

Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..

Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.

Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.

Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.

But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.

Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh

See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite

Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010


4 September 2010

Hallo friend,

As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)

Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.

Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..

Kau dengar? Meninggalkan aku!

Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..

Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.

Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)

Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.

Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..

Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.

Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol

Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.

Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.

Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.

Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.

Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.

Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.

Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.

Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.

Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..

Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.

Part III


10 November 2010

Diary, hari ini dimulai dari aku mendengar berita yang tidak mengenakkan dari grup whatsappku…

Sahabatku saat SD, Mel meninggal, katanya kelainan sumsum tulang belakang, astaga… padahal dia adalah anak yang menarik dan sangat periang lho.

Karena itu, aku dan bersama beberapa temanku pergi melayatnya setelah jam ketiga kuliah selesai. Untung saja hari ini aku bawa mobil, sehingga kami tidak harus pergi dengan menggunakan busway.

Sesampainya di rumah duka xxxxx itu, aku segera mencari ruangan dimana temanku dibaringkan itu.

Aku melihat dia dibaringkan di peti yang sangat putih dengan shading warna pink. Walaupun sangat kurus dan pucat, tapi dia telihat sangat cantik diperbaringan terakhirnya. Tidak sadar aku menitikkan air mata tadi saat melihatnya.

Singkat cerita, setelah berbasa-basi sebentar dengan keluarganya, aku memutuskan untuk duduk sebentar ditempat duduk yang telah dipersiapkan di rumah duka itu bagi para pelayatnya.

Aku melihat bapak-bapak duduk sendirian dengan sedih di deretan bangku seberang, Aku berpikir kalau dia adalah salah satu pelayat dari ruangan diseberang itu. Meskipun anehnya pelayat yang datang sangat sepi, dan hanya terdiri dari beberapa orang termasuk seorang pastor yang baru saja keluar, sepertinya baru saja selesai mendoakan orang meninggal di ruangan seberang itu.

Aku melihat bapak yang terlihat sedih itu, dan dia menyadari aku melihatnya karena dia mengangkat wajahnya dan menatapku juga, kemudian tersenyum sedih.

Bapak itu terlihat sangat sedih dan kesepian, mungkin yang meninggal adalah saudara atau keluarga dekat beliau, begitu pikirku.

Kemudian aku melakukan hal yang aku anggap seharusnya dilakukan. Aku berdiri dan duduk disebelah bapak itu. Aku bertanya kepadanya ada apa pak? Siapa yang meninggal? Kenapa bapak sendirian disini? apa keluarga bapak yang lain ada di dalam?

Bapak itu cerita padaku, kalau orang yang meninggal itu adalah orang yang sangat-sangat dekat padanya, yang meninggal karena kecelakaan terjatuh di kamar mandi. Orang yang meninggal itu sudah ditinggalkan keluarganya dulu karena judi, karena itu sekarang walaupun sudah meninggal, keluarganya tidak datang untuk melayat dia, sama sekali tidak seorangpun yang datang dari keluarganya. Dia hanya diurus oleh tetangga-tetangganya di rusun saja, dan mereka semua itu sudah pulang daritadi.

Aku merasakan iba pada orang yang meninggal itu. Bapak itu bertanya padaku kemudian, non, kamu mau menemani bapak ini? Jadi teman dari orang yang meninggal itu? Kasihan kan dia sangat kesepian? Katanya.

Yaah, aku mengiyakan saja, menurutku itu hal yang seharusnya aku lakukan. Bapak itu kemudian menggandeng tanganku untuk masuk ke ruangan orang meninggal itu. Tangan bapak itu sangat dingin, dan ruangan orang meninggal itu sangat gelap, aneh sekali seperti tidak ada orang disana, seperti ruangan kosong saja.

Entah mengapa jantungku berdebar-debar, dan bulu kudukku tiba-tiba menegak. Aku mulai merasa kalau masuk kedalam bukan hal yang tepat.

Tiba-tiba seseorang memanggilku “Lis, jangan masuk kesana”. Aku buru-buru menoleh, aku yakin itu suara dari Mel.

Iya, aku tau hal itu tidak mungkin karena dia sudah meninggal.
Tapi karena panggilan dia, aku menoleh kebelakang. Tiba-tiba aku melihat Cindy dan Vivi yang sedang celingukan. Vivi melihat aku dan berteriak “nah itu dia orangnya!”

Kedua gadis itu lari-lari mendekati aku, Cindy yang terlihat bete sedangkan Vivi bertanya darimana saja sih aku, mereka mencariku kemana-mana dari toilet dan diparkiran tapi tidak ketemu.

Aku bilang, aku baru saja diajak melayat orang yang meninggal disini. Vivi bertanya “memangnya kamu kenal?” aku bilang aku tidak kenal, tapi ada bapak-bapak teman orang ini yang minta tolong padaku karena pelayatnya terlalu sepi untuk temannya yang meninggal.

Aku melihat kebelakang sambil menjelaskan ke mereka. Tapi aku lihat, ruangan itu menyala terang, seperti ruangan lainnya di rumah duka ini yang sedang dipergunakan. Didalamnya aku melihat peti mati hitam besar yang sudah ditutup. Kemudian aku melihat foto di samping peti itu.

Dan langsung aku merasakan darahku seperti tidak mencapai mukaku.

Foto itu adalah foto si bapak yang duduk tadi.

Part  4


23 November 2010

Hallo diary..

Aku sangat lelah, tapi aku sudah janji akan ceritakan padamu kalau aku mengalami kejadian dengan mereka lagi…

Jadi begini ceritanya, setelah selesai mengerjakan tugas kuliahku, aku langsung menuju ke perpustakaan untuk meminjam buku yang akan dipakai.

Aku bete karena penjaga perpustakaan malas mengambilkan buku itu untukku, mau tidak mau aku harus naik keatas deh, padahal aku malas sekali harus naik ke lantai 15… karena.. yah, kau tau lah…

Jadi aku naik ke lantai 15, dan sudah merasakan firasat buruk…

Aku berusaha tidak terlalu memikirkan itu, dan hanya berjalan lurus langsung ke rak buku yang kutuju.

Dari sudut mataku aku melihat seseorang sedang duduk di salah satu meja.

Bukan, aku yakin dia bukan hantu karena aku mengenalnya. Lena dari jurusan Manajemen, khas dengan rambut bobnya.

Aku hanya agak heran karena dia bisa-bisanya tahan ditempat ini. Beruntunglah yang tidak bisa melihat kurasa….

Jadi aku buru-buru mengambil buku yang ingin kupinjam itu. Ketika aku keluar dari rak-rak buku, Lena sudah tidak ada ditempatnya.

Tapi ketika aku mau turun, aku melihat Lena sedang berdiri diam menatap rak buku. Tidak sedang membaca atau mencari-cari buku, hanya berdiri diam menatap rak buku.

Yahh, aku menganggap itu sedikit aneh tapi tidak terlalu memikirkan hal itu tadi.

Setidaknya tidak sampai beberapa saat kemudian sih…

Setelah mendapatkan buku yang kuinginkan itu, aku segera ke parkiran untuk mengambil mobilku. Hari sudah gelap, dan aku paling malas harus berhadapan dengan kemacetan apabila pulang bersamaan dengan jam pulang kerja ini.

Dan syukurlah, entah bagaimana hari ini jalanan terlihat sepi.

Ketika mobilku sedang meluncur di jalanan yang entah bagaimana bisa sangat lowong pada jam ini, aku mulai mendengar suara seperti suara kertas sedang dibalik, seperti suara saat membalik halaman pada buku.

Awalnya aku mengira kalau suara itu mungkin bukan suara kertas dibalik, tapi entah suara apa yang dihasilkan oleh mobilku. Aku memelankan jalan mobilku untuk berjaga-jaga, dan aku melihat kekursi belakang melalui kaca tengah, tidak ada apapun dan suara itupun juga berhenti.

Kemudian aku kembali melanjutkan perjalanananku. Perlahan, suara itu kembali terdengar, dan kali ini suaranya semakin jelas dan temponya semakin cepat.

Dan kali ini aku sangat yakin kalau suara itu adalah memang suara halaman buku yang dibalik.

Sekali lagi aku melihat dengan takut-takut ke kaca tengah, bersiap untuk melihat ‘mereka’. Tapi tidak kutemukan siapa atau apapun dari kaca. Dan kali ini, aku bahkan tidak tau apakah rasa dingin yang terasa di kulitku ini berasal dari AC ataupun pertanda bahwa ‘mereka’ ada di dekatku.

Aku menyetir dengan agak was-was sepanjang perjalanan, karena suara membalik halaman itu tidak berhenti juga.

Aku merasa benar-benar tidak tenang, sampai akhirnya aku mampir di rest-area untuk beristirahat sebentar dan menenangkan diriku. Ini agak aneh bahkan buatku, ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sampai aku berpikir, apa mungkin kemampuanku sudah mulai melemah ya… Cuma bisa mendengar saja? Kalau memang benar sih aku sangat bersyukur sekali deh, malahan aku berharap kalau kemampuan ini bisa menghilang seluruhnya…

Yahh, ternyata kutukan ini tidak semudah itu pergi dehh…

Selesai menghabiskan es krim dan milk-shakeku (ingatkan aku untuk olahraga yang rajin ya Diary) aku kembali ke mobilku, sudah saatnya pulang kan..

Nah, ketika aku melihat mobilku, aku melihatnya..

Aku melihat Lena.. atau sesuatu yang mirip Lena duduk di bangku penumpang di depan. Dia sedang membaca buku dengan pose yang sama persis seperti Lena yang aku lihat tadi di Kampus.

Aku serasa membeku melihatnya, jadi.. daritadi dia bukan dikursi belakang, tapi disebelahku…?

Kemudian, tiba-tiba dia melihat ke luar jendela. Kemudian dia berdiri dan menembus pintu. Kemudian menoleh dan tersenyum padaku, aku tidak melihat matanya karena tertutup poni panjang seperti poni yang dimiliki Lena yang asli.

Kemudian dia berjalan menuju semak-semak dan menghilang.. begitu saja, seperti dia tidak pernah ada sama sekali..

Setelah itu, aku langsung buru-buru masuk mobil, menyalakannya dan segera berpacu pulang.

Aku benar-benar tidak akan terbiasa dengan hal ini deh…

Part 5- Bagaimana Kutukan ini di mulai

20 Desember 2010

Dear Diary,

Rasanya tidak sabar untuk menunggu natal yang akan segera datang nih 

Hmm.. hari ini tidak ada kejadian berarti. Aku juga bingung mau menceritakan apa padamu Diary

Baiklah, begini saja. Rasanya sudah lama sekali tidak bercerita hal-hal yang menyangkut mereka ya. Bagaimana kalau hari ini aku bercerita pengalaman pertamaku, benar-benar pengalaman pertamaku untuk hal-hal seperti ini.

Aku mengingatnya dengan samar-samar untuk detailnya, tapi aku masih mengingat mahluk yang kutemui dan kata-kata yang waktu itu kukatakan padanya.

Waktu itu kalau tidak salah aku baru kelas 4 SD. Dan mama sedang dirumah sakit untuk segera melahirkan adikku.

Benar, aku ingat itu adalah hari kelahiran adikku.

Jadi pada hari itu, papa menjemputku pulang dari SD dan segera menuju ke rumah sakit. Hari itu adalah pertama kalinya aku masuk ke rumah sakit yang begitu besar. Dulu belum ada mall atau semacamnya, dan keluargaku selalu berlibur di taman atau bermotor ke berbagai tempat. Jadi aku ingat kalau waktu itu bagiku masuk di bangunan yang begitu megah adalah pertama kalinya bagiku.

Aku tidak ingat permainan apa saja yang aku lakukan hingga mencapai malam.

Waktu itu papa mendatangiku dan berkata, sebentar lagi adikmu akan lahir lho, doakan mama ya, kata papa.

Aku sangat gembira mendengar kalau aku akan mendapat adik. Sepertinya bagaikan mendapat suatu hadiah yang sangat aku nanti-nantikan deh.

Hal kemudian yang aku ingat adalah ketika papa dipanggil masuk oleh dokter, dan tidak lama keluar dengan muka yang sedih.

Aku tidak begitu ingat apa yang papa katakan waktu itu, yang pasti ada sesuatu masalah dengan mama dan adik kecilku.

Aku diajak masuk ke ruangan disamping ruangan tempat mama sedang berada ditempat orang-orang yang memakai penutup muka dan penutup kepala, yang belakangan baru aku ketahui kalau itu adalah baju untuk tenaga medis.

Aku melihat ada seorang anak bayi yang ada disamping mama, anak itu agak transparan. Dan diatas bayi itu ada sesuatu, sesuatu yang sedang mencekik bayi itu.. awalnya aku menganggap itu adalah anak kecil dengan muka terjelek yang pernah kulihat. Dengan rambut seperti habis terbakar dan dengan kulit berwarna merah seperti kulit yang terkelupas dan menunjukkan daging dibawah kulit itu.

Mahluk merah itu menyadari aku melihat dia, atau kalau sekarang aku katakan dia tau aku BISA melihat dia.

Mahluk itu menghentikan cekikannya dan turun dari ranjang mamaku kemudian berhenti didepanku, diseberang kaca yang memisahkan ruanganku dan ruangan mama.

Dia cuma berkata dua kata dan diulang-ulang dengan ekspresi menyeringai yang aneh. Mata mahluk itu seperti ditarik keluar separuh sehingga terlihat urat dan daging menyembul di sampung rongga matanya. Hidungnya seperti hidung binatang, mungkin hidung kambing atau semacamnya, dan mulutnya buruk sekali, giginya tajam namun tidak beraturan.. seperti ada gigi yang tumbuh di gigi lainnya, atau ada gigi yang tumbuh menembus pipi dan bibir bawahnya. Pokoknya menjijikkan, ditambah dengan kulit merahnya yang mengelupas.

Dua kata yang disebut berulang-ulang oleh mahluk itu kepadaku adalah “kamu… lihat….”

Apapun yang aku tanyakan kepada mahluk itu dijawabnya dengan dua kata itu, sampai-sampai aku mengira kalau dia hanya bisa bicara dua kata itu saja. “kamu…lihat….”

Sampai akhirnya aku bertanya pada mahluk itu “kamu apakan bayi itu? Itu adikku kan? Jangan ganggu mamaku”

Pada saat aku bicara begitu, dia menyeringai.. uhh.. giginya jelek sekali pokoknya kamu tidak akan mau tau deh… dan dia masih menyelinginya dengan kata-kata “kamu…lihat…”

Kemudian dia tertawa histeris sangat kencang sekali. Aku menyuruhnya diam, tapi sepertinya papa dan dokter yang sedang bicara dengan papa bersikap biasa saja seakan tidak bisa mendengar mahluk ini…

Atau bahkan tidak bisa mendengarku?

Setelah tertawa dengan sangat puas, mahluk itu menusukkan kedua jarinya yang pendek ke kedua mataku. Rasanya panas dan sakit, secara reflek aku menutup mataku dengan tanganku. Tangannya menekan kedua kelopak mataku dengan jari yang sangat panas, dan aku mencium bau hangus seperti ada sesuatu yang dibakar tepat didepanku..

Disitulah aku mendengar mahluk itu berkata, tepat dibelakangku tepat dibelakang leherku “kamu.. lihat… kamu.. akan… terus…. Lihat”

Tidak lama kemudian, dokter lari kedalam ruangan mama. Aku dibawa keluar oleh papa. Tidak lama kemudian, kami mendengar kalau adikku sudah lahir.

Aku ingat mataku masih terasa sangat panas waktu itu, jadi aku minta izin papaku untuk pergi ke toilet untuk membasuh mukaku. Keluarnya dari ruangan, rumah sakit itu menjadi terasa sangat penuh sekali dengan orang. Beberapa orang bahkan terlihat mengalami luka yang mengerikan. Ada yang tangannya putus sehingga dengan penuh darah berjalan sambil menahan tangannya yang putus itu ditempatnya semula. Ada kakek nenek yang duduk dilantai di depan sebuah kamar. Ada seorang ibu dengan putrinya yang menangis, disampingnya ada seorang pria yang melihat mereka dengan sedih, pria itu memakai baju compang-camping dan sangat tidak pantas untuk rumah-sakit, belum lagi dipenuhi dengan luka-luka menganga dan masih menetes-netes begitu.

Aku juga melihat anak kecil yang berlari-lari disepanjang rumah sakit ini. Aneh, pikirku waktu itu padahal tadi saat baru datang rumah sakit ini sepi sekali. Dan semua anak kecil itu memakai semacam ikat pinggang atau kukira begitu di perut mereka, yang berwarna semerah darah.

Pemandangan itu membuatku mabuk waktu itu, sehingga badanku terasa lemas sekali. Seingatku aku akhirnya memutuskan untuk kembali saja ke ruangan mamaku. Disitu papa sudah menungguku dan segera menggendongku untuk melihat adikku yang baru lahir

Aku melihat adikku sedang menyusu pada mama. Bayi yang sama dengan bayi yang tadi kulihat sedang dicekik oleh mahluk merah jelek itu. Aku senang mengetahui kalau aku telah mencegah mahluk merah itu mencekik adikku.

Yaahh, itulah pertama kalinya awal dari semua kemampuanku melihat mereka..

Sudah kukatakan kan, ini kutukan

Part 6 - Perkemahan SMP

8 Januari 2011

Hoahm… Aku mengantuk sekali Diary…

Tapi kurasa hari ini tidak sepantasnya aku mengisi lembaranmu dengan makanan lagi. Hmm.. bagaimana kalau aku akan menceritakan lagi pengalamanku dulu yang seram.

Soalnya sudah lama dari terakhir aku menceritakan soal ini kan? Dan anehnya dan untungnya aku belum bertemu atau melihat ‘mereka’ lagi akhir-akhir ini.

Apa mungkin ‘mereka’ sedang berlibur ya? Hahahaha

Baiklah, langsung saja. Ini terjadi di SMP ku dulu. Hmm.. ada tiga kejadian di SMP, tapi akan kuceritakan yang paling menyeramkan saja deh.

Aku belum ceritakan kepadamu ya Diary? SMPku itu bangunannya sudah sangat tua sekali deh..

Dan disebelah gedung tadinya ada hutan bambu yang kemudian dipangkas bersih dan dijadikan menjadi kolam renang.

Hmm.. ada sedikit cerita juga mengenai kolam renang itu, tapi tidak terlalu menyeramkan ah, jadi kalau saya sempat saja akan saya ceritakan padamu yahh.

Oke, sekarang lanjut ke cerita kita yah. Waktu itu saya ingat kalau saya ikut ekskul pramuka dimana waktu itu ekskul pramuka masih menjadi ekskul wajib di SMPku.

Pada hari itu, ekskul diadakan sampai sore untuk mempersiapkan kemping dalam waktu dua hari lagi (ohh.. benar juga, besok aku akan ceritakan pengalaman jurit malam padamu).

Waktu itu aku dan teman-temanku secara berkelompok pergi ke toilet sekolah bersama-sama, selain memang kami terbiasa untuk melakukannya, namun kali ini kelompok yang ikut bersama kami lebih banyak, kami bersepuluh karena seramnya kondisi toilet SMPku dimalam hari seperti ini.

Kami menunggu satu sama lainnya di dalam toilet itu. Sewaktu aku sudah selesai dan bersama empat temanku yang sudah selesai juga, kami menunggu 5 orang lagi yang masih berada di dalam toilet sampai selesai.

Lalu kami mendengar suara ketukan 3x dari toilet yang paling ujung. Awalnya kami tidak terlalu memperhatikan, sampai ketukan itu terjadi lagi.

Temanku Silvia berteriak pada cewek yang berada di dalam toilet itu untuk bertanya “Wati, lu butuh tissue?”

Cewek yang berada di dalam itu menyahut “Apaan? Gua gak perlu tissue, gua bawa kok, mang kenapa?”

Silvia menjawab lagi “Oh, gua kirain lu butuh tissue, karena kasih kode ketuk-ketuk pintu toilet”

Tapi Wati yang berada dalam toilet malah menegur Silvia “Lu jangan nakutin gua Sil, mana ada gua ngetuk-ngetuk pintu”

Silvia balas menegur “Lu yang jangan nakutin kita semua Wat, orang gua ama anak-anak denger kok”

Segera setelah Silvia selesai mengatakan itu, tiba-tiba ketukan datang bukan hanya dari pintu toilet yang berada di paling ujung saja. Tapi berurutan mulai dari yang paling ujung sebanyak 3x, kemudian berpindah ke sebelahnya sebanyak 3x, dan selanjutnya, sampai ketukan 3x itu berhenti di toilet yang berada di depan kami.
Pada saat itu aku sudah tau ada yang tidak beres dengan ini.

Pada saat itulah ketukan, bukan, lebih tepatnya seperti orang sedang memukul semua pintu toilet secara bersamaan secara berirama 3x.. 3x.. 3x… gedorannya sangat kencang sehingga seakan-akan memenuhi seluruh isi toilet ini.

Kami semua berteriak, ini terlalu menakutkan bahkan bagiku..

Semua cewek yang berada di dalam toilet itu berhamburan keluar, dan tanpa berkata apa-apa lagi, kami semua kabur dari toilet itu.

Waktu itu aku adalah orang yang lemah dalam hal olahraga, jadi aku berada paling belakang dari sepuluh orang yang berlari didepanku.

Kami berlari sampai mencapai ke kelas kami. Waktu itu kami semua hanya berpikir untuk segera mengambil tas kami dan pergi pulang sesegera mungkin.

Tapi yang jadi masalahnya adalah, ruangan kelas dalam keadaan gelap gulita.

Listrik sudah diturunkan semenjak kegiatan pramuka dibubarkan tadi. Tapi kami harus mengambil tas kami untuk bisa pulang.

Silvi yang kebetulan waktu itu adalah ketua kelas memberanikan diri untuk mengintip keruangan kelas ini.

Kemudian aku melihat dia tersandung, dan menarik cewek dibelakangnya, dan kemudian cewek itu menarik temannya lagi, sampai akhirnya aku juga ikut ditarik oleh cewek didepanku sampai kami semuanya masuk di kelas itu.

“Aduh, kenapa lu narik gua sih Sil” tegur salah satu cewek yang bersama kami, aku lupa siapa yang bicara saat itu.

“Enak aja, gua enggak narik lu, lagian ada yang dorong gua tadi!” tuduh Silvia

“Gua enggak dorong lu kok” kata cewek tadi.

Satu per satu cewek-cewek yang lain berkata kalau tangan mereka juga ditarik cewek di depan mereka, sedangkan semuanya menyangkal kalau menarik tangan cewek di belakang mereka.

“Sudahlah, sudah cukup, semua diam dulu” kata Silvia akhirnya “Lebih baik kita ambil tas dulu kemudian pulang, besok saja kita bicarakan lagi” usulnya.

Semuanya setuju dengan usul Silvia.

Semua dari kami akhirnya masing-masing berjalan k etas kami dan mengambilnya.

Tuk..Tuk..Tuk.. terdengar lagi ketukan tiga kali yang berasal dari jendela kelas kami.

Semua dari kami berbalik dan melihat ke arah jendela. Terlihat ada bayangan tangan yang sedang mengetuk jendela.

Silvia dengan cepat berlari keluar kelas “Siapa itu!?” teriaknya hendak menangkap siapapun yang dia anggap telah menjahili kami.

Tapi dia tidak menemukan siapa-siapa di lorong sekolah yang sepi itu..

Kemudian, secara serentak dan bergemuruh, seluruh meja kayu dikelas kami seperti dipukul-pukul dengan keras.. mengikuti irama tiga kali ketukan berulang-ulang..

Tanpa memikirkan hal lainnya lagi, kami segera lari pontang-panting dari situ..

Aku memaksa diriku lari secepatnya walaupun waktu itu aku sangat payah dalam yang namanya olahraga..

Aku merasakan sesuatu sewaktu berlari, sesuatu memegang tasku sehingga terasa sangat berat..

“Dengar..lihat..jatuh..” aku mendengar kata-kata itu seakan seseorang berbicara tepat dibelakangku.

Bulu kudukku berdiri.. secara insting aku sangat ingin menengok kebelakang, seperti ada tarikan kuat untuk itu.

Aku berusaha sekuatnya untuk tidak melakukan itu dan memaksa langkahku untuk mengejar teman-temanku sementara tasku terasa semakin berat.

Entah seberapa lama waktu berlalu, aku tidak ingat tapi rasanya lama sekali untuk menuju gerbang depan yang bahkan tidak sampai 3 meter dari ruang kelas kami itu.. tapi rasanya jauh sekali dan sangat berat..

Baru sampai dibawah terang lampu yang menyinari gerbang sekolah kami aku merasa beban yang menahan tasku hilang, beratnya kembali seperti semula..

Kami begitu ketakutan, sampai berada diluar gerbangpun kami tidak berani melihat kembali ke arah sekolah kami. Dan kami semua berjalan dalam diam sampai ke depan sebuah plaza yang masih ramai dengan orang saat itu (yang sekarang sudah berubah menjadi mall).

Aku merasa sesuatu yang hilang..

“Sil” panggilku “Tadi perasaan ada anak yang pakai bando putih ikut sama-sama kita deh” tanyaku pada sang ketua kelas.

“Hah?” Silvia melihatku dengan tatapan heran “Maksud lu?” tanyanya.

“Pas kita lari dari toilet, perasaan ada yang pakai bando putih lari di depan aku” jelasku, aku ingat jelas karena anak itu lari tepat depanku dan selalu berada di depan aku sampai kita masuk ke dalam kelas. Setelah itu aku tidak terlalu memperhatikannya.. dan sekarang aku baru teringat akan anak itu setelah kita berkumpul kembali.

“Lu ngomong apa sih?” desak Silvia lagi.

Aku menatap dia heran, apa sih susahnya dimengerti dengan anak bando putih? Aku bertanya lagi “Iya, anak bando putih, aku enggak liat tadi dia siapa, tapi dia kan ikut kita tadi, tapi sekarang enggak ada”

Silvia menatapku seakan-akan aku orang aneh, lalu menggapai tasnya dan mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.

Sebuah cermin

Kemudian dia mengangkat cermin itu di depan wajahku…

Aku lupa aku juga pakai bando putih

Lalu aku tersadar sesuatu yang mengerikan, kamu tau Diary?

Aku sadar, waktu kita masuk toilet kan hanya bersepuluh saja seharusnya

Part 7- Jurit Malam 1

10 Januari 2011

Tidak ada sesuatu special yang terjadi hari ini.. hari ini terasa lamban dan membosankan deh..

Okee, kalau begitu sesuai janjiku aku akan menceritakan pengalamanku ketika jurit malam ya Diary, kamu belum merasa takut dengan cerita-cerita pengalamanku kan? Setidaknya kamu senang karena tidak merasakan langsung.

Jadi biar kumulai saja ya ceritanya?

Setelah kejadian yang terjadi pada saat malam di SMP yang kemarin lusa aku tuliskan itu, kamipun berangkat untuk berkemah di perkemahan pramuka di c******.

Kami tiba sekitar jam 10 pagi, dan tidak ada sesuatu hal yang special terjadi sampai malam hari datang. Hal-hal normal seperti layaknya perkemahan, kamu tau Diary? Seperti permainan dan bonding, seperti itulah, aku bahkan tidak terlalu ingat lagi apa saja yang kami lakukan.

Saat malam itulah baru terjadi sesuatu yang lebih membekas di ingatanku, yaitu saatnya keberanian atau jurit malam.

Dan tidak, berbeda dengan Jurit malam yang diceritakan pada cerita-cerita hantu, kami tidak akan melewati hutan atau kuburan atau semacamnya. Dan tidak ada guru atau kakak kelas yang menakut-nakuti kami. Hanya berjalan mengikuti alur dari lapangan jurit malam, yang berbentuk jalur setapak yang di sebelah kanan dan kirinya pepohonan jarang dan ilalang yang cukup tinggi.

Kami hanya perlu mengambil lilin dari satu pos ke pos lainnya, mengikut jalur melingkar hingga sampai kembali ke tempat kami berkemah. Simple, pikirku saat itu.

Tidak terlalu parah, pikirku. Apalagi cahaya bulan purnama sangat terang diatas langit.

Hal yang sedikit membuat temanku jengah adalah larangan untuk membawa senter. Kami hanya dibekali dengan korek api sebanyak 1 kotak untuk jaga-jaga kalau-kalau lilin kami mati.

Jalanan yang harus kami tempuh agak jauh untuk ukuran anak SMP. Aku lupa panjang tepatnya berapa, tapi kalau tidak salah ada Pembina yang mengatakan luasnya kurang-lebih seluas lapangan bola, dan areal itu memang sering dipergunakan untuk melakukan jurit malam oleh para pramuka yang berkemah.

Sekolah kami sengaja mengambil waktu diluar musim perkemahan, karena itu kami bisa dengan bebas untuk menggunakan lapangan itu, karena dari saat kami datang tadi, tidak ada grup lain yang sedang menyewa perkemahan ini.

Akhirnya jurit malam pun dimulai, aku dan teman berpasanganku dibekali oleh lilin yang ditaruh didalam gelas kaca dengan desain yang cukup untuk membuatnya bertahan dari tiupan angin. Dan ruangan lilin yang cukup luas untuk mengisinya sampai berisi 12 lilin dari 12 pos.

Kami mulai berjalan, dari pos pertama.. kedua.. ketiga… tidak ada yang terjadi, bahkan aku masih bisa melihat pasangan didepanku dari cahaya lilin mereka.

Begitu mencapai pos keempat, ternyata pos itu dijaga oleh seorang pramuka senior yang dengan tersenyum ramah memberikan lilin keempat kami. Kamipun menyalakan lilin itu dan memasukkannya ke wadah lilin kami.

Sekitar separuh jalan ke pos ke lima, salah satu lilin di wadah kami mati. Lilin itu adalah lilin yang baru saja kami dapatkan, aku tau, karena lilin itu lebih panjang dan sedikit berbeda dari lilin lainnya.

Kami menyalakan lilin itu kembali, dan mendapatkan lilin itu mati hanya beberapa langkah setelah dinyalakan. Dan hal itu terus menerus terulang sehingga aku dan temanku menyerah untuk mencoba menyalakan lilin keempat itu.

Kami melanjutkan perjalanan ke pos kelima, kali ini tidak ada orang yang menunggui pos itu, kami segera mengambil lilin kelima, menyalakannya dan memasukkannya ke dalam tempat lilin kami. Untunglah lilin kelima itu tidak bermasalah seperti lilin keempat….yang entah kapan telah menyala di dalam tempatnya.

Aku sedikit heran waktu itu namun tidak terlalu memikirkannya, bisa saja lilin itu menyala karena terkena api dari lilin lainnya, dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Tiba-tiba kami merasakan udara menjadi semakin dingin ditambah dengan angin kencang yang bisa membuat seluruh tubuhku gemetar karena dinginnya. Menyembunyikan kenyataan bahwa bulu kudukku berdiri saat itu..

Separuh jalan menuju lilin keenam, aku mulai merasakan adanya pandangan yang mengarah padaku. Aku menyempatkan diri untuk melihat kebelakangku, dibelakangku aku masih bisa melihat lilin dari pasangan yang berjalan setelah kami, dan tidak jauh didepanku aku masih bisa melihat cahaya lilin dari pasangan yang berjalan lebih dulu.

Setidaknya hal itu membuatku sedikit lebih tenang. Kami tidak terpisah dari yang lainnya.

Tidak lama, kami berhasil mencapai pos keenam. Pos yang keenam juga dijaga oleh seseorang.

Kami segera mengambil lilin keenam dan menyalakannya “Jangan sampai tersesat..” bisik penjaga pos keenam itu. Kami berdua mengangguk dan melanjutkan perjalanan kami.

Pasanganku mempersiapkan wadah lilin kedua yang masih kosong, wadah itu akan dipergunakan untuk menampung enam lilin berikutnya.

Kami berjalan melalui semak-semak yang semakin menyempit, namun jalanan mulus yang berada dibawah kaki kami menunjukkan kami berada di jalan yang tepat. Lagipula aku masih bisa melihat cahaya kecil yang berada di depan kami.

Jalanan itupun kemudian menuju semakin curam, semakin menurun. Hingga kami mencapai tangga-tangga yang dialiri oleh air hujan.

Kami berjalan di jalanan sempit yang diapit oleh bebatuan yang basah karena aliran air. Tidak jauh dari situ, kami melihat sebuah Menara kecil (seperti obelisk kecil) yang ditengahnya terdapat lubang tempat menaruh lilin-lilin.

Aku mengambil lilin itu..

“Ah!” seruku kaget. Aku merasakan seperti menyentuh tangan yang dingin ketika berusaha mengambil lilin itu.

Aku mendekatkan lampu lilinku pada lubang itu untuk melihat dengan lebih jelas.



Tidak ada apa-apa, dan akupun memutuskan kalau hal yang barusan terjadi hanyalah imajinasiku saja karena suasana tempat ini yang menyeramkan.

Kegelapan ditambah bunyi suara angin yang berhembus melalui celah tempat kami berjalan menjadikan suara-suara seperti tangisan.
Kami buru-buru mengambil dan menyalakan lilin itu kemudian memasukkannya ke dalam wadah yang dibawa temanku.

Untunglah lilin kali ini juga menyala tanpa masalah.

Namun, secara tidak sadar aku melihat keanehan yang terjadi pada lilin keempat.

Apinya bergoyang bagaikan tertiup angin, padahal sisa lilin lainnya tidak. Dan wadah itu dibuat sedemikian rupa sehingga angin tidak dapat masuk ke dalam namun masih mendapatkan cukup asupan oksigen untuk membuat api tetap menyala.

Kemudian lilin itu mati sekejap, dan kemudian hidup lagi.

Disaat itu, aku melihat bayangan seseorang berdiri di jalan di depan kami , sebelum angin kencang dan dingin menerpa tempat itu membuatku dan teman berpasanganku menutup mata dan memeluk badan kami karena dinginnya.

Ketika aku membuka mataku, bayangan itu lenyap. Sepertinya yang kulihat tadi itu adalah bayangan sebuah Menara kecil seperti pos ketujuh ini.

Karena hari semakin malam dan kami takut tertinggal jauh dari pasangan di depan kami, maka kamipun melanjutkan perjalanan kami.

Aku bersyukur karena setelahnya jalanan semakin menanjak hingga kami keluar dari celah sempit itu.

Tapi jalur selanjutnya adalah barisan pepohonan yang panjang dan jalan yang sangat gelap.

“Hei” aku bicara pada teman sepasangku saat itu “Ayo lebih cepat yuk, aku sudah kangen pada tidur nih” bujukku sembari sedikit berkelakar agar tidak terlihat takut.

Temanku setuju, dan kami mempercepat jalan kami.

Dari sudut mataku, aku melihat seperti sesuatu bergoyang-goyang di ranting pohon di sisi kiri dan kanan kami.

Namun ketika aku menengok, tidak ada apapun kecuali pepohonan yang terlihat sama satu sama lainnya.

Aku melanjutkan kembali perjalananku. Kali ini perasaan bahwa sesuatu bergoyang-goyang di atas ranting itu semakin jelas.

Aku berusaha melihat dari sudut mataku tanpa menengok langsung ke pepohonan tersebut.

Kaki.. sepasang kaki bergoyang-goyang dan menjuntai turun dari pepohonan itu. Aku tidak bisa melihat bagian atas dari sepasang kaki itu tanpa menengokkan kepalaku.

Kemudian aku melihat ke sisi satunya dan melihat hal yang sama, sepasang kaki putih kebiruan yang menjuntai turun di ranting pohon. Seakan seseorang sedang duduk diatasnya.

Bersambung besok ya Diary, sudah malam sekali ini.. aku sudah mengantuk…

Tenang, aku masih ingat jelas ceritanya kok, besok pasti aku lanjutkan yaaa…

Part 8 - Jurit Malam 2

11 Januari 2011

Iya, aku tau, kita lanjutkan cerita kemarin yaa….

… aku melihat ke sisi satunya dan melihat hal yang sama, sepasang kaki putih kebiruan yang menjuntai turun di ranting pohon. Seakan seseorang sedang duduk diatasnya.

…Aku menggenggam tangan pasanganku dan berjalan lebih cepat lagi.

Aku mendengar suara dari belakangku, suara “krsssk..krsssk” suara yang kupikir seperti suara seseorang sedang berusaha turun dari atas pohon.

Awalnya aku hanya mendengar dua suara, hingga semakin banyak, seakan-akan ‘sesuatu’ yang duduk di atas pohon, apapun itu, sedang berusaha turun, dari semua pohon secara bersamaan dengan bunyi “krrsssk..krrsssk” yang semakin bergemuruh.

Aku semakin mempercepat langkahku, temanku juga mengimbangi langkahnya bersama denganku.

Kami terus berjalan dengan cepat, bahkan hampir setengah berlari hingga mencapai pos ke delapan.

Kami tidak berhenti, namun dengan cepat aku menyambar lilin yang ditaruh di meja kecil yang berbentuk seperti altar.

Aku menyalakan lilin ke delapan dengan susah payah karena melakukannya sambil berjalan, Untunglah aku berhasil dan kemudian meletakkan lilin itu kedalam wadah temanku.

Kami terengah-engah, namun aku tidak berhenti karena perasaan diikuti yang masih kurasakan sampai dengan sekarang.

Aku tidak ingat kapan aku sampai di pos ke Sembilan, sebuah rumah petani tua yang dengan lilin yang diletakkan di undakan tangga di depan rumah itu.

Aku menyuruh temanku untuk menunggu sedangkan aku menaiki tangga pendek itu dengan cepat dan mengambil lilin yang tergeletak di sana.

Kurasakan adanya pandangan yang mengarah padaku, aku menengok ke temanku, namun dia sedang melihat sekeliling sambil memeluk badannya yang kedinginan.

Akupun merasa mulai kedinginan sampai aku melakukan kesalahan dengan melihat ke celah pintu yang terbuka sedikit di depanku.

Sepasang mata melihatku dengan tajam..

Sepasang mata yang menatapku tanpa ada emosi..

Aku merasakan keringat dingin mulai mengalir di pipiku, dan jantungku berdebar dengan sangat kencang. Darah mulai tidak mengalir ke wajahku dan aku merasakan adanya rasa ancaman yang membuat perasaanku sangat tidak enak.

Kupaksakan kakiku yang seakan menempel pada lantai kayu untuk bergerak.

Aku melangkah secepat yang kubisa untuk menuruni tangga kayu itu sambil menggenggam erat lilin ke delapan dan sedikit tersandung ketika turun, seakan ada sesuatu yang menghalangi, atau memegang pergelangan kakiku.

Aku tidak memperdulikannya dan segera menyambar tangan temanku, beranjak pergi dari situ.
Kali ini aku menyadari bahwa bulu kudukku berdiri penuh saat ini. Dan instingku merasakan bahwa aku merasa seperti berada di suatu tempat yang membuatku terasa seperti dikurung. Terlepas dari jalanan luas yang terhampar di depan kami dan cahaya lilin yang berada di depanku.

Aku merasa seperti terkucil dan terkurung…

Atau lebih tepatnya..

Terkepung…

Aku tidak peduli hal lainnya selain berusaha menyelesaikan jurit malam ini secepat mungkin. Untungnya temanku juga setuju denganku, karena dia tidak memberikan protes apa-apa selama aku menariknya berlari di sepanjang jalan sampai k epos ke sepuluh.

Pos ke sepuluh berada di pangkal sebuah jembatan batu yang luas yang terbentang diantara kali dengan air yang mengalir deras, dan berbentuk seperti patung dengan lilin-lilin diletakkan di tangannya.

Di seberang pos itu, dengan jarak sekitar 1 kilometer, aku melihat cahaya lilin menyinari sesuatu dengan bentuk yang hampir sama dengan patung pos kesepuluh ini. Kemudian cahaya lilin di depanku itu pergi menjauh, menyusuri jalan selanjutnya.

Pos ke sepuluh dan ke sebelas ada di kedua pangkal jembatan ini rupanya, begitu pikirku saat itu.

Aku berterimakasih untuk itu, setidaknya hanya selangkah lagi sampai ini semua selesai. Aku segera mengambil lilin ke sepuluh dan bergerak menyebrangi jembatan dengan cepat.

Aku kembali tidak sengaja melihat api dari lilin keempat yang berada di dalam wadahku kembali bergoyang-goyang dengan kencang, seakan tertiup oleh angin.

Setelah melihat kaki yang bergoyang dari atas ranting pepohonan, kali ini aku melihat tangan, banyak sekali tangan yang memegang samping jembatan batu itu. Seakan hendak memanjat.

Oke, kali ini aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa takutku dan memaksa temanku berlari menyebrangi jembatan itu.

Bunyi kecipak air dan suara derak besi dari pinggiran jembatan berbunyi dengan ramai di belakangku, aku semakin mempercepat lariku.

Aku melihat pos ke sebelas yang berbentuk patung yang berbentuk sama seperti pos sebelumnya hanya kali ini aku baru bisa melihat bentuk patung itu dengan lebih jelas. Patung itu memiliki kesamaan dengan patung di pos ke sepuluh dengan hidung panjang, mata marah dan rambut yang diikat keatas. Namun bedanya, patung pertama berperut buncit, sedangkan patung ini tidak buncit, tapi memiliki dua gigi depan seperti gigi kelinci dengan senyum yang mengerikan.

Aku menyambar lilin yang berada di tangan patung itu. Sesuatu menggenggam pergelangan tanganku namun aku segera menyentakkannya dan berlari (belakangan aku melihat luka di pergelangan tanganku seperti genggaman sebuah tangan dengan jari yang sangat panjang).

Dengan terengah-engah aku melanjutkan perjalanan yang semakin sempit. Pada titik itu, aku benar-benar sudah sangat kehabisan nafas. Maklum saja, kegiatan fisik bukan sesuatu yang menjadi kelebihanku, malahan sebaliknya aku sangat payah dalam hal olahraga atau hal lainnya yang menuntut fisik.

Tapi aku rasa waktu itu rasa takut mengalahkan rasa lelahku…

Tidak jauh didepanku, aku melihat cahaya lilin. Aku berlari menuju cahaya lilin itu sampai mendapati sebuah arca tanpa kepala.

Di depan arca itu terdapat banyak sekali lilin, baik yang terpasang di dalam tempat-tempat lilin maupun yang tergeletak di meja kecil di depannya.

Semua lilin yang terpasang di tempatnya dalam keadaan mati, mungkin karena angin yang berhembus sangat kencang di tempat ini.

Satu-satunya lilin yang menyala adalah lilin yang berada di meja tempat lilin lainnya berserakan.

Lilin yang terletak pada wadah yang sama seperti lilin pada wadah kami.

Seseorang telah meletakkannya disitu, pikirku. Aku mendekati wadah lilin itu dan mendapati sedikit keanehan.

Wadah lilin itu juga memiliki satu lilin dengan bentuk aneh yang mati. Lilin keempat yang juga terdapat pada wadah milikku.

Secara reflek, aku melihat kedalam wadahku sendiri dan mendapati lilin keempat milikku juga mati.

Baru saja aku hendak memikirkan atas keanehan ini ketika lilin keempat milikku tiba-tiba menyala.

Menyala bukan karena tersambar api dari lilin lainnya, melainkan menyala seakan-akan api itu keluar dari dalam lilin itu.

Bersamaan dengan itu, lilin keempat di wadah didepanku juga menyala.

Satu-persatu lilin-lilin yang terletak ditempatnya juga menyala.

Api dari lilin-lilin itu menari-nari yang entah mengapa membuat perasaanku sangat tidak enak.

“KAAAAAAAKKKKKKKKK..AAAKKKKKKK”

Sebuah suara yang mengerikan datang dari arca tanpa kepala didepanku. Suara yang kalau kugambarkan seperti suara yang dikeluarkan seseorang yang dicekik.

Dari leher patung itu yang tidak ada kepalanya, mengalir cairan berwarna hitam.

Aku tidak perlu melihat kelanjutannya karena aku menyambar lilin yang tergeletak di meja dan menyambar tangan temanku yang juga membeku di sampingku.

Aku mengira bahwa dia juga sama ketakutannya seperti aku.

Aku segera berlari bersamanya, tidak peduli rasa terbakar di paru-paruku yang memberontak.

Entah berapa lama aku berlari, tapi aku mulai panik karena aku tidak menemukan jalan keluar dari jalan setapak ini.

Dengan keadaan ketakutan dan panik aku berdoa, memohon kepada Tuhan dengan desperate.

Hingga pada suatu titik, aku bisa melihat cahaya dari kejauhan.

Aku berusaha tidak memperdulikan rasa lelahku dan menarik temanku menuju cahaya itu.

Dan aku bisa melihat areal terbuka yang adalah lapangan tempat kami berkumpul tadi. Aku segera berlari ke arah bukaan semak-semak yang mengelilingi kami.

Wadah lilin temanku terjatuh tepat ketika kami sampai ke ujung semak-semak itu. Aku tidak menunggunya dan hanya berkata “ayo cepat! Tinggalkan saja itu, kita hampir sampai” dan aku meninggalkannya karena dia berusaha memungut lampu lilin itu.

Aku berpikir, tidak apalah toh sudah dekat dengan jalan keluar…

Seketika aku keluar dari semak-semak itu, seorang Pembina melihatku. Dia sedang memegang senter bersama dengan beberapa senior dan Pembina lainnya.

Dia berteriak “Itu Dia!!!! Ketemu!!!” seru Pembina itu sambil berlari ke arahku.

Dalam sekejap banyak orang mengelilingiku. Beberapa menyelimutiku dengan jaketnya karena melihatku menggigil.

Salah seorang Pembina itu bertanya padaku “Kamu dari mana saja? Bagaimana mungkin kamu bisa tersesat?”

Aku keheranan dan menanyakannya aku hanya mengikuti jalur yang sesuai dengan jurit malam itu.

Pembina itu juga berkata lagi “tidak mungkin, kau tau jam berapa ini? Sekarang jam 2 pagi, sudah 5 jam kami mencari-cari kamu karena kamu tidak kembali juga setelah semua kelompok lain juga sudah kembali”

Aku berkata kalau aku tidak tau, dan sepanjang perjalanan aku juga bersama teman pasanganku mengikuti cahaya lilin di depan kami.

Pembina itu melihatku dengan heran “dengan (nama teman pasanganku-aku lupa namanya)? kamu meninggalkannya setelah pos ke empat” katanya “dia kembali dan terus bersama kami dari tadi, katanya dia baru meleng sebentar tau-tau kamu menghilang sendirian”

“Aku hanya mengambil lilin dari penjaga pos empat kok” bantahku ketika mendengar aku meninggalkannya sendirian.

Pembina itu mengerenyit “tidak ada yang menjaga pos, semua pos bentuknya seperti pos 1 – 3 kok, Cuma bangku kecil dengan bendera yang diikatkan pada tongkat pramuka”

Setelah itu pikiranku seakan kosong dan darah seperti berhenti dari badanku deh… sepertinya aku pingsan, entahlah.. aku tidak ingat lagi…

Yah, kau tau diary? Waktu itu aku benar-benar serasa mau mengompol mendengarnya

Aku tidak tau apa yang terjadi waktu itu padaku, dan baru padamu saja aku menceritakan hal ini..

Part 9 Penghuni Kampusku

17 Januari 2011

Dear Diary,

Hari ini hujan gerimis turun seharian dan ini hari minggu…

Membosankan..

Tapi, mungkin ini saat yang tepat untuk cerita menyeramkan ya? Ehehehe

Kemarin aku sudah bercerita pengalamanku yang panjang selama dua hari penuh di lembaranmu. Kali ini aku akan membagikan cerita-cerita yang lebih ringan saja.

Kalau kemarin-kemarin aku bercerita tentang pengalamanku dengan ‘mereka’ yang jahat, maka kali ini aku akan bercerita mengenai keseharianku bersama ‘mereka’ yang sedikit lebih normal, dan khusus kali ini akan kuceritakan ‘mereka’ yang ada di kampusku.

Seperti seorang ibu tua yang berwajah ramah yang hampir selalu duduk di bangku tunggu di depan kampus, dia selalu tersenyum padaku ketika aku tidak sengaja memandangi dia.

Atau seorang pemuda yang hampir selalu sedih yang memandang jendela dari lorong kampus lantai 6. Kami pernah berbicara beberapa kali, ia mengatakan kalau ia menyesali keputusannya yang terlalu cepat untuk melompat bunuh diri setelah dikecewakan karena putus dengan pacarnya dan kegagalan kuliahnya. Dia berkata andai dia bisa bertemu cewek sepertiku lebih cepat… maaf, kalau kau bukan ‘mereka’ aku rasa aku mungkin tidak menyadarimu juga sih…

Kemudian beberapa orang dari ‘mereka’ yang selalu berkumpul di bawah pohon di lapangan parkir belakang, dan ‘musuh’ dari mereka yaitu seorang dengan wajah bule dan baju kuno dengan luka tembak membusuk di dada yang kudengar dari kelompok itu selalu membujuk mahasiswa depresi untuk bunuh diri di kampus ini. Aku percaya, karena kelompok itu mengaku mereka adalah korban dari lelaki bule itu.

Lalu ada perempuan berambut panjang dan berbaju merah pekat yang selalu mondar-mandir di lantai 4 kampus. Kadang kala dia sedikit mengerikan karena apabila aku tidak sengaja melihat dia, perempuan itu akan mengejarku dengan merangkak dengan sangat cepat… untungnya dia tidak bisa berpindah lantai, dan aku mendengar gosip kalau ada beberapa mahasiswa yang sempat melihatnya ketika menginap di kampus (apa sih yang dipikirkan orang yang mau menginap di kampus?) untung saja mereka hanya ditemukan pingsan pagi-pagi.

Lalu ada pria bungkuk yang kerjaannya mengerjai orang-orang dengan memindahkan barang-barang mereka, ataupun menakut-nakuti orang dengan memutar-mutar tempat sampah atau membuat barang-barang jatuh.

Kemudian anak-anak muda dengan baju kuno yang sering sekali menaiki atau menuruni tangga dengan suara gaduh, sehingga membuat orang mendengar mereka.

Atau pria buncit dengan seringai yang tidak pernah hilang dari wajahnya yang selalu membuka pintu atau jendela dengan bunyi derit yang sengaja diperdengarkan ke orang-orang yang tidak bisa melihat dia.

Kemudian ada juga gadis penyendiri yang hanya duduk diam di pojokan tangga lantai 1. Juga temannya (mungkin) yang juga seorang gadis yang selalu berdiri diam dan menatap dinding di belakang lift lantai 6.

Kadang teman-temanku juga menanyakan kenapa sih aku paling tidak suka apabila kuliah dilakukan di lantai 12? Versi resminya adalah aku mengatakan kalau lantai itu pengap, tapi aslinya adalah karena ada wanita yang tergantung di tengah-tengah ruangan kelas yang selalu berpindah-pindah antara satu kelas dengan kelas lainnya. Kalau aku beruntung, aku tidak mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan dia. Tapi kebanyakan, aku selalu melihatnya ketika mendapat kelas di lantai 12, dan sukses untuk mendapatkan tatapan yang sangat mengerikan dari dia.

Kemudian ada seorang tua yang penampilannya sangat necis yang memakai baju safari. Dia selalu melayang ditengah-tengah ruangan kosong di lantai 6. Kampusku ini tengah-tengah gedungnya kosong, jadi kita bisa melihat dari atas sampai lantai dasar, dan bapak tua itu selalu melayang di tengah-tengahnya.

Nah, kurang lebih itu adalah ‘mereka’ yang tidak berbahaya di kampusku. Tapi ada juga yang berbahaya di kampusku.

Diantaranya adalah wanita dengan kulit mengerikan di toilet lantai 7 yang pernah aku ceritakan padamu, kemudian ‘mereka’ yang mendiami lift keempat di kampus belakang… ingatkan aku ya untuk ceritakan tentang lift ini padamu, dan yang paling jahat dari semuanya itu, adalah ‘mereka’ yang berkumpul di lantai 13 di gedung kampus ini.

Lantai 13 hanya terdiri dari 1 kelas, dan di dalam kelas itu berbagai macam kejadian yang berhubungan dengan ‘mereka’ sangat sering terjadi, sampai-sampai orang biasapun bisa mendengar dan mengalami dengan jelas.

Lantai 13 ini mungkin akan kuceritakan nanti padamu Diary, karena selain cerita dari teman-temanku, aku juga melihat sendiri ‘mereka’ yang mendiami lantai 13 ini. Yang pasti, mereka itu sangat kelam dan penuh dendam.

Itu adalah ‘mereka’ yang kutemui di keseharian kampusku.

Lain kali akan kuceritakan juga pengalaman melihat ‘mereka’ di perjalanan, atau di tempat-tempat umum.

Kadang kala, sepertinya teman-temanku yang normal juga bisa melihat mereka tanpa sadar di keramaian, berpapasan atau sekadar melihat sepintas atau sebagainya, karena mereka kadang terlihat persis seperti orang hidup sih…

Part 10 - Wanita Dress Putih

25 Januari 2011

Dear diary,

Hari ini benar-benar menyebalkan..

Kali ini aku benar-benar merasa kalau ‘mereka’ sangat menggangguku. Kau tau, padahal hari ini adalah hari kencan pertamaku dengan Brian (note : nama samaran). Dan catat ini : aku sangat menantikannya karena dia adalah pacar pertamaku kau tau.

Dan semua itu langsung dirusak oleh ‘mereka’.

Bahkan salah satu dari mereka ikut denganku sekarang. Pusing aku…

Oh ya Tuhan.. dia malah tertawa cekikikan… sudahlah akan kuceritakan saja ya ceritanya Diary..

Hari ini aku pergi dengan Brian ke mall xxxx. Semuanya berjalan begitu indah walaupun masih agak kaku. Sampai akhirnya sampai setelah kami selesai nonton bioskop.

Aku pergi ke toilet setelah bioskop, di dalam toilet aku melihat wanita muda sedang muntah-muntah ke wastafel.

Awalnya aku tidak begitu memperhatikannya, namun dari dalam toilet aku mendengar suara muntahnya semakin parah. Sehingga ketika aku keluar dari toilet aku bermaksud menghampirinya.

Dibelakang wanita itu, sekarang ada wanita lain yang sama mudanya dengan dia dan menggunakan dress berwarna putih, sepertinya wanita itu sedang membantu wanita yang pertama karena dia sedang memegang tengkuk dan perut dari wanita yang sedang muntah itu.

Aku mendekati mereka berdua dan bertanya kepada wanita dengan dress putih itu.

“Temannya kenapa ya? Apa sakit? Mau saya bantu antar ke rumah sakit?”

Wanita dress putih itu menengok ke aku, dalam beberapa detik matanya menatap lurus ke mataku. Kemudian dia tertawa “Hihihihihiihi…” kemudian tawanya berubah jauh dari tawa manusia “KAAKAKAKAKEKEKEKEKEKEKKEKAKAKAKAKA”

Tubuh wanita itu melengkung saking kerasnya dia tertawa. Wanita satunya yang muntah-muntah jatuh terduduk di depan wastafel.

Aku segera mundur dan berbalik.

Namun tepat di depanku, wajah wanita itu menahanku. Aku memperhatikan kalau lehernya memanjang dari tubuhnya.

Dia memojokkan aku sampai aku bersender di sisi wastafel sembari lehernya kembali memendek ke ukuran normal dan menyatu kembali dengan badannya.

Kini dress putihnya sudah menghilang. Dan penampilannya… aku hanya bisa menyimpulkannya kalau penampilannya seperti seseorang yang telah diperkosa.

Penampilannya sangat berantakan, bajunya koyak setengah badan sehingga menunjukkan setengah badannya yang tidak tertutup pakaian. Badannya yang tidak tertutup pakaian itu penuh dengan luka-luka koyak dan bekas-bekas luka seperti ikatan tali.

Darah mengalir dari kedua kakinya, diatasnya luka menganga lebar terbentuk di perutnya, luka sayatan dengan darah deras mengalir dari situ.
“Kamu bisa lihat akuuu?” katanya, suaranya terdengar seperti suara perempuan biasa dengan nada menggoda.

‘mahluk’ itu mendekati aku, kemudian bertanya lagi “KAMU BISA LIHAT KAAN??” katanya lagi, namun kali ini suaranya sangat serak dan bergema seperti berasal dari dua tempat.

Kemudian dia tertawa lagi, tawanya seperti berasal dari dua orang “KEKEKEKEKEKEKEKEKKK..hiihihihihii..KEKEKEKEKEKEKEKK…hihihihhihihi…”

Kemudian dia jatuh kedepan dan merangkak dengan kedua tangan dan kedua kakinya dan merayap pergi ke dalam bilik toilet.

Aku berjalan perlahan ke arah bilik toilet itu..

Mahluk itu telah menghilang tanpa jejak..

Aku merasa keadaan sudah aman dan memapah gadis yang muntah-muntah tadi keluar.

Brian menanyakan kenapa aku saat aku keluar, dan aku memutuskan untuk tidak memberitahukan apa-apa kepadanya untuk sekarang.

Kamipun pulang..

Di perjalanan pulang aku baru tau kalau aku terlalu cepat untuk gembira…

Mahluk itu mengikuti di samping mobil Brian, merayap mengerikan dan melompati pepohonan dan tiang listrik di sepanjang perjalanan.

Matanya yang menyiratkan kegilaan menatap tajam aku.

Dan disinilah dia.. sekarang.. bersamaku di kost…

Oh Tuhan.. dia tertawa lagi….

Diary… aku tidak tau apakah aku bisa tidur malam ini.. tapi setidaknya aku harus mencobanya…


26 januari 2011

Aku akhirnya menceritakan semuanya pada Brian…

Aku tidak kuat lagi menjaga rahasia ini.. semalaman kemarin aku tidak bisa tidur diganggu olehnya..

Untungnya Brian baik sekali, meskipun tidak mempercayai hantu.

Dan meskipun dia agak berlebihan dengan berkata “aku tidak percaya hantu ada, kalau ada coba datang dan hadapi aku”

Aku harap dia hanya bercanda ketika mengatakan hal itu.

Hari ini ‘dia’ menungguku lagi di kamar kostku…

Dia menungguku.. bertengger diatas lemari dengan kaki dan tangannya.. seperti layaknya binatang berkaki empat..

Dia menyeringai ketika aku membuka pintu.. dan tertawa dengan tawa khasnya..

“KEEKEKEKEKKEKEKEKEKEKEKEKE”

Aku tidak tahan lagi tadi..

Dan memutuskan untuk menelepon Brian..

Kau tau apa jawabannya padaku Diary?

Dia bilang “Tenang ya, hantu itu tidak ada, aku tidak percaya hantu ada mungkin kamu mengidap scrizopenia, aku akan mengantarmu ke psikolog besok…”

Hebat kan? Pacarku sendiri menganggapku gila sekarang..

Bagus sekali…

Tapi aku benar-benar bersyukur Diary… mahluk itu tiba-tiba menghilang sejak jam enam tadi..

Aku bisa tidur setidaknya malam ini..

27 Januari 2011

Mahluk itu kembali lagi Diary…

Tapi hari ini dia tidak berusaha mengagetkanku seperti kemarin..

Hari ini dia hanya berdiri di tengah-tengah ruangan tidurku..

Menatapku sambil menyeringai lebar..

Kepalanyanya berputar mengikuti kemana aku pergi meninggalkan badannya yang tidak bergerak walaupun lehernya sudah berputar dengan cara yang tidak mungkin.

Kulihat kerutan-kerutan di lehernya ketika kepalanya berputar 180 derajat, dikerutan-kerutan itu kulihat darah yang menetes-netes dari lipatannya.

Mahluk itu memanjangkan lehernya dan tetap menatapku ketika aku mandi, dia juga mengikuti kemanapun aku pergi.. hanya dengan leher dan kepalanya..

Sepertinya aku akan gila..

Dalam arti sesungguhnya…

Aku mencoba menghubungi Brian beberapa kali hari ini.. tapi semua teleponku tidak diangkatnya, semua SMSku juga tidak dibalasnya…

Aku tidak tahan lagi tadi.. tapi sama seperti kemarin, setelah jam 6 dia menghilang lagi…

Aku tidak paham kenapa dia selalu menghilang setelah jam 6.. tapi setidaknya aku bisa istirahat…

28 January 2011

Hari ini aku mendapatkan satu SMS dari Brian

KITA PUTUS

Sudah, itu saja.. setelah itu berapa kalipun aku mencoba telepon tidak ada yang tersambung, bahkan SMSpun tidak ada yang masuk lagi.

Aneh sekali…

Aku padahal mau memberitahukan kepadanya kalau ‘mahluk’ itu tidak kulihat lagi hari ini

Dan aku mau memberitahukan padanya kalau aku tidak gila..

Ah sudahlah, besok saja aku akan mencarinya di kampus..


29 January 2011

Aku tidak menemukan Brian di kampusnya..

Teman-temannya juga bilang dia sudah tiga hari tidak masuk kuliah…

Aneh sekali deh..

Hari ini ‘mahluk’ itu juga tidak muncul di kostku..

Sebagai gantinya, hantu seorang nenek yang baik dan selalu tersenyum ramah padaku muncul lagi di lorong kostku.

Sudah lama aku tidak melihat nenek itu, sepertinya semenjak ‘mahluk’ itu datang deh..

Sudahlah… kalau memang Brian mau putus denganku, ya sudah.. toh dia sudah menganggapku gila…

Rugi rasanya menangis untuk dia..

Part  11 Wani Dress Putih 2

20 february 2011

Aku mendengar lagi kabar tentang Brian dari temannya…

Katanya Brian dulu kerasukan. Setiap malam ada wanita berbaju putih yang mengajaknya bersetubuh, dan kemudian menggorok leher Brian setelah mereka selesai bersetubuh..

Menurutnya, Brian bermimpi tentang itu sampai 3 hari berturut-turut.

Dari berita terakhir yang didengar oleh temannya itu, tubuh Brian menjadi semakin lemah sampai akhirnya orang tuanya membawanya kembali ke kampungnya di Yogyakarta.



Aku jadi sedikit merasa bersalah pada cowok itu deh.
loading...

Labels: horor, pilihan

Thanks for reading Diary Horor [Penakut Jangan Masuk]. Please share this article.

Share:

1 Komentar untuk "Diary Horor [Penakut Jangan Masuk]"

Ane adalah salah satu penggemar cerita hantu Mas, Ane biasanya nyari-nyari di kaskus, tapi karena udah mulai basi ceritanya, mulailah biasanya Ane cari-cari artikel lain, nah mumpung nih blog lagi ngebahas tema yang Ane sukai. Jadi ntar Ane coba baca artikel yang ada disini dikit-dikit hehehe.