Mitologi Hantu Wewe Yang Suka Menculik Anak Kecil

Dalam masyarakat suku Jawa mitologi tentang memedi atau hantu sangat populer dan banyak yang meyakini keberadaannya. Salah satu memedi Jawa yang paling dikenal adalah wewe yang dikenal sebagai memedi yang gemar menculik anak-anak. Tak heran banyak orang tua yang menakut-nakuti anaknya dengan ancaman, “awas, kalau nakal nanti diculik wewe”.

Mitologi Wewe gombel
Sosok Wewe menurut sketsa seniman Italia abad ke-16  (en.wikipedia.org).

Menurut pemaparan Wikipedia.org, sosok hantu wanita bernama wewe ternyata bukan hanya dikenal dalam mitologi Jawa, tetapi juga dipercaya dalam mitologi Sunda.

Dalam buku yang berjudul Dunia Hantu Orang Jawa: Alam Misteri, Magis, dan Fantasi Kejawen (2004), yang ditulis Suwardi Endraswara, guru besar Pendidikan Bahasa Jawa pada Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dijelaskan bahwa hantu wewe pernah begitu ditakuti sekali pada era penjajahan. Bahkan sosok hantu wewe pernah diabadikan dalam Serat Sabda Pranawa, pada zaman pujangga besar R.Ng. Ranggawarsita.

WEWE GOMBEL

Diantara wewe yang paling kondang adalah wewe dari Gombel, yaitu salah satu kawasan di perbukitan Kota Semarang. Konon mitos tentang hantu wewe berasal dari sebuah cerita rakyat kuno yang terjadi di Bukit Gombel, Semarang tersebut.

Wewe berasal dari roh wanita yang bunuh diri karena tak tahan dengan sanksi sosial dari para tetangga setelah ia membunuh suaminya yang berselingkuh. Sang suami ia pergoki sedang berhubungan badan dengan wanita lain karena ia sendiri mandul.

Kabarnya, ketika itu ada sepasang suami istri yang telah menikah selama bertahun-tahun. Namun, karena sang istri mandul sehingga tidak mampu memberikan keturunan, maka perilaku sang suami pun berubah.

Suami tersebut kabarnya sampai meninggalkan istrinya dalam waktu yang cukup lama, sehingga membuat sang istri merasa sedih dan terpukul. Pada suatu ketika, istri tersebut tanpa sengaja menemukan jejak sang suami dan mengikuti langkah kepergiannya.

Tanpa pernah terduga sebelumnya, ternyata sosok lelaki yang ia cintai dan nanti-nantikan setelah lama menghilang itu justru bersama wanita lain. Mereka bahkan ia pergoki sedang berhubungan badan.

Terluka akibat pengkhianatan yang dilakukan suami tercintanya, sang istri kemudian menjadi marah besar hingga membunuh suaminya. Akibat pembunuhan yang dilakukannya, istri tersebut dikecam tetangga-tetangganya. Ia dihina dan dikucilkan. Merasa tak kuat oleh sanksi sosial yang diterima, ia bunuh diri.

Kematian tak wajar itulah roh dari wanita itu diyakini gentayangan dan dikenal sebagai hantu wewe. Dan karena cerita itu berasal dari daerah Gombel, Semarang, maka ia lebih dikenal dengan julukan wewe Gombel.

Namun ternyata ada versi lain dari mitologi wewe Gombel, bahwa kisah tersebut berasal dari orang-orang yang mati di bukit di kawasan Gombel akibat pembantuan di masa penjajahan Belanda.

Dalam tradisi Jawa, wewe Gombel dikenal sebagai roh jahat atau hantu yang suka mencuri anak-anak. Namun namun tidak memiliki niat untuk mencelakai anak tersebut.

Konon anak yang dicuri itu biasanya anak-anak yang ditelantarkan dan diabaikan oleh orang tuanya. Untuk itulah, hantu wewe menculik anak dari orang tua yang tak acuh guna menakut-nakuti si orang tua agar sadar dan peduli lagi kepada anaknya. Apabila orang tua telah merasa sadar, maka hantu wewe pun akan mengembalikan anak tersebut.

Dalam buku Dunia Hantu Orang Jawa: Alam Misteri, Magis, dan Fantasi Kejawen (2004), dijelaskan wewe Gombel tergolong sebagai hantu tua penyambar anak-anak yang berjalan sendirian di waktu sore hari.

Oleh karena itulah, kisah wewe Gobel tersebut banyak digunakan oleh para orang tua untuk menakut-nakuti anak mereka agar bersikap lebih baik. Kisah wewe Gombel itu terutama dijadikan alasan para orang tua untuk melarang anak-anak mereka agar tidak keluar rumah di kala senja atau malam hari.
Sebab, pada masa lalu, keadaan malam amat gelap gulita dan amat berbahaya karena hewan buas bisa jadi memasuki kawasan perkampungan. Oleh karena itu, mitos wewe Gombel diciptakan untuk menyelamatkan anak-anak dari ancaman bahaya kegelapan malam tersebut.

Jika anak-anak masih keras kepala untuk keluar atau masih bermain di luar rumah pada malam hari, maka akan diculik oleh kolong wewe atau wewe gombel tersebut. Dengan mitos tersebut maka anak-anak diharapkan menjadi takut dan tidak keluar pada malam hari.

Wewe gombel itu digambarkan sebagai sosok perempuan tua yang wajahnya penuh dengan keriput, rambutnya putih, penampilannya acak-acakan dengan payudaranya yang panjang dan amat menjijikan.

Sebutan lain dari wewe Gombel menurut Suwardi Endraswara adalah wewe putih. Menurutnya, wewe Gombel itu juga merupakan istri hantu genderuwa.

Selain itu, ada yang berpendapat bahwa anak-anak yang diculik oleh wewe Gombel akan diberi makan kotoran manusia. Jika si anak menolak memakannya, maka wewe Gombel akan menyuapi kotoran manusia itu secara paksa.

Cara lainnya, wewe Gombel akan memberikan halusinasi kepada anak-anak tersebut, yang membuat kotoran manusia itu akan terlihat layaknya makanan lezat hingga dimakan secara sukarela. Tujuan wewe Gombel tega melakukan itu agar anak tersebut menjadi bisu dan tidak bisa menceritakan apa yang telah ia alami bersama si wewe kepada orang lain.

Lukisan rekaan wewe Gombel pada laman ekoprastowo.com 

Wewe di Bali
Selain masyarakat Jawa dan Sunda, di Bali pun dikenal sosok makhluk halus dengan gambaran serupa bernama rangda.

Rangda yang dalam bahasa Jawa kuno berarti randa atau janda itu merupakan ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang dianggap menakutkan ini diceritakan kerap menculik anak kecil hingga memangsanya.

Rangda juga digambarkan sebagai sosok yang memimpin pasukan nenek sihir jahat yang melawan Barong. Sosok rangda pun digambarkan sebagai wanita tua yang tatanan rambutnya berantakan serta memiliki payudara yang terjumbai dan memiliki cakar pula.

Kendati dianggap sebagai sosok yang jahat, sosok rangda tetap dianggap sebagai kekuatan pelindung di beberapa kawasan tertentu dari Bali. 

Selain wewe Gombel di , ada pula penggambaran hantu lainnya di belahan dunia lain, yang kisahnya digunakan untuk menakuti anak-anak. Sosok-sosok hantu tersebut digunakan oleh para orang tua di negara yang bersangkutan, untuk menakuti anak-anak mereka agar berperilaku baik.

Berikut sosok hantu wewe yang terdapat di berbagai negara.

Bogeyman
Bogeyman adalah hantu yang dikenal di kawasan Eropa.  Sosoknya digunakan oleh para orang tua di Eropa untuk menakut-nakutii anak-anak mereka yang berperilaku buruk agar menjadi baik. 

Bogeyman yang dianggap sebagai monster itu tidak digambarkan secara spesifik. Namun, kisah bogeyman tersebut kabarnya banyak digunakan oleh para orang tua di kawasan Eropa untuk menjadikan anak mereka lebih baik. “Jika kamu nakal, maka akan ditangkap oleh monster bogeyman,” begitulah kira-kira yang akan dikatakan oleh orang tua di Eropa kepada anaknya yang nakal.

El-Coco
El-Coco adalah mitos hantu berikutnya yang digunakan oleh para orang tua, yakni di negara Spanyol untuk membuat anak-anak mereka tidur dengan baik. Mitos tentang sosok El-Coco itu pun dikenal di Amerika Latin. 

Sementara di kawasan Meksiko-Amerika yang mengenal El-Coco dengan istilah El-Cucuy, menggambarkan sosoknya sebagai raksasa jahat yang bersembunyi di bawah tempat tidur anak-anak di malam hari dan akan menculik bahkan memangsa anak yang tida segera berangkat tidur.

Cuca
Sosok yang serupa dengan El-Coco disebut cuca oleh warga Brazil. Cuca digambarkan sebagai sosok makhluk berjenis kelamin perempuan. Para orang tua di Brazil biasanya akan mengatakan kepada anak-anak mereka yang tidak segera tidur dengan perkataan, “Jika kamu tidak segera tidur, maka cuca akan menangkapmu.”

Babau
Sosok hantu berikutnya yang digunakan oleh para orang tua untuk menakuti anak-anak mereka yang nakal adalah babau. Babau merupakan sosok makhluk yang dikenal di negara-negara Mediterania Timur. Di Italia, babau digambarkan sebagai seorang pria jangkung mengenakan mantel hitam tebal dengan wajah tersembunyi di bawah tudung hitam atau topi yang dikenakannya. 

Untuk membuat anak mereka agar mau makan misalnya, orang tua di Italia akan mengetuk dengan keras bagian bawah meja makan, dan berpura-pura mengatakan kepada anak mereka bahwa ada seseorang yang telah mengetuk pintu. Lalu orang tua itu pun mengatakan, “Here comes l’uomo nero! [Lihatlah ini, ada anak yang tidak mau makan sup-nya!]”

Butzemann atau Busseman
Butzemann atau Busseman merupakan sosok hantu yang dikenal di Jerman, untuk menakuti anak-anak agar bersikap baik. Ia digambarkan sebagai sosok berkulit hitam yang  mampu menculik anak-anak yang nakal atau tidak mau tidur, lalu menyembunyikan mereka di sudut-sudut gelap di bawah tempat tidur atau di bawah lemari.

Sosok Butzemann atau Busseman pun menjadi tokoh terkenal dalam permainan anak-anak di Jerman. Permainan itu bernama Wer hat Angst vorm schwarzen Mann (Siapa yang takut hantu)?

Ou-Wu
Sosok hantu berikutnya yang digunakan oleh para orang tua untuk menakuti anak-anak mereka adalah Ou-Wu. Sosok Ou-Wu dikenal oleh masyarakat Tiongkok atau China. Terlebih di kawasan China Selatan maupun Hong Kong. Ia digambarkan sebagai penyihir atau seorang wanita menakutkan yang dapat menculik anak-anak yang nakal.

Namahage
Namahage adalah sosok hantu yang ada saat Namahage Sedo Matsuri atau Festival Topeng Iblis di Jepang. Sosoknya pun kerap digunakan untuk memperingatkan anak-anak agar tidak malas atau agar tidak menangis.

Nah, ternyata wewe tidak hanya dikenal di Indonesia ya tapi di berbagai negara juga ada mitologinya, dan yang menarik dari semua sosok wewe tersebut semuanya terdapat kesamaannya, yaitu digambarkan sebagai hantu yang suka menakut-nakuti anak-anak. (Semarangpos.com, Madiunpos.com)

Posting Komentar untuk "Mitologi Hantu Wewe Yang Suka Menculik Anak Kecil"