Filosofi Dibalik Angka Jawa : 25 Selawe, 50 Seket, 60 Sewidak

makna dibalik angka jawa selawe, seket, sewidak



Ada yang unik dalam penyebutan angka 25, 50 dan 60 dalam Bahasa Jawa. Pasalnya, penyebutan angka tersebut tidak "sejalan" atau mengikuti pola seperti penyebutan angka sebelumnya. Dalam Bahasa Jawa, angka 25 disebut selawe, 50 disebut seket, dan 60 disebut sewidak / suwidak.

Secara umum penyebutan angka /bilangan mengikuti pola yang umum, namun dalam Bahasa Jawa kita menemukan sejumlah sebutan angka tertentu yang tidak urut mengikuti pakem angka sebelumnya.

Inilah keunikan yang terjadi pada angka dalam Bahasa Jawa yang ternyata didalamnya memiliki makna filosofi yang mendalam.

Untuk diketahui bagi yang belum tahu, urutan angka dalam Bahasa Jawa adalah siji (1), loro (2), telu (3), papat (4), limo (5), enem (6), pitu (7), wolu (8), songo (9), sepuloh/sepuluh (10).

Selanjutnya, untuk menyebut angka belasan, jika mengikuti pola sebelumnya, dimana 10 disebut sepuluh, seharusnya angka 11 disebut ‘sepuluh siji’, 12 ‘sepuluh loro’, 13 ‘sepuluh telu’, hingga 19 ‘sepuluh songo’.

Filosofi Angka Belasan / Welasan


Tapi dalam Bahasa Jawa penyebutan angka belasan tidak begitu. Namun angka 11 disebut/dibaca sewelas, 12 disebut rolas, 13 disebut telulas dan seterusnya hingga 19 disebut songolas. 

Alasan mengapa sepuluhan diganti dengan istilah welasan, ternyata ada filosofinya.

Usia belasan (11-19 tahun) adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (belas kasih) pada jiwa seseorang, terutama terhadap lawan jenis. Itulah usia di mana seseorang memasuki masa akil baligh, masa remaja.

Itulah sebabnya angka belasan dalam Bahasa Jawa disebut dengan istilah welasan.

Filosofi Angka Dua Puluhan 


Sedangkan untuk angka 20 disebut rongpuluh. Sehingga seharusnya jika mengikuti pola umum, angka 21 disebut rongpuluh siji, 22 disebut rongpuluh loro.

Namun bilangan 21 hingga 29 dalam bahasa Jawa tidak mengikuti pola tersebut. 

Sebaliknya, penyebutan angka kepala dua sebutannya menggunakan Likur. Yaitu selikur (21), rolikur (22), telulikur (23), patlikur (24).

Angka 20-an disebut dalam satuan Likur, ternyata merupakan kependekan dari LIngguh KURsi. Artinya duduk di kursi.

Hal ini mengandung falsafah bahwa pada usia 21 (selikur) hingga 29 (songo likur) itulah pada umumnya manusia mendapatkan “tempat duduknya”, baik itu berupa pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, seniman, penulis, dan lain sebagainya.

Yang menarik sekaligus juga unik, diantara penyebutan angka 21 sampai 29, ternyata ada pengecualian untuk angka 25.

Filosofi Angka 25 / Selawe


Angka 25 dalam Bahasa Jawa penyebutannya bukan limolikur, melainkan Selawe.

Kenapa 25 dinamakan selawe, bukan limolikur?

Konon penyebutan Selawe tersebut memiliki makna tersendiri. Selawe diartikan sebagai ‘Seneng-senenge Lanang lan Wedok’ atau dalam Bahasa Indonesia berarti ‘Sedang suka-sukanya seorang pria dan perempuan’.

Umur 25 (selawe) merupakan puncak asmaranya seorang laki-laki dan perempuan, yang ditandai dengan pernikahan.

Umumnya seorang pria maupun perempuan Jawa akan melangsungkan pernikanan saat berumur 25 tahun. Saat usia inilah seorang Jawa dinilai sudah matang dan siap untuk membina rumahtangga

Tentu saja tidak semua orang menikah pada usia tersebut, tapi jika dirata-rata memang di antara usia 21-29. 

Pada saat kedudukan sudah diperoleh, pada saat itulah seseorang siap untuk menikah.

Selanjutnya untuk angka 30 hingga 49, penamaan angka dibaca normal seusai pola urutan, misalnya telung puluh (30), telung puluh siji (31), telung puluh loro (32), dan seterusnya. 

Filosofi Angka 50 / Seket


Namun kembali terjadi penyimpangan pada angka 50. Bukan disebut limo/limang puluh, 50 dalam Bahasa Jawa disebut Seket.

Konon SEKET diartikan sebagai SEneng KEthonan / Senenge Kethuna. Atau kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia ’suka mengenakan kethu alias penutup kepala/topi/kopiah”. 

Filosofi angka seket ini menunjukkan seseorang akan mendekati lanjut usia dan rambut mulai botak serta memutih sehingga banyak masyarakat Jawa akan mengenakan penutup kepala.
Di sisi lain, tutup kepala bisa juga berupa kopiah yang melambangkan orang yang sedang beribadah. 

Memang demikian, pada usia 50 sudah seharusnya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya. 

Setelah sejak umur likuran bekerja keras mencari kekayaan untuk kehidupan dunia, sekitar 25 tahun kemudian, yaitu pada usia 50 perbanyaklah ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat.

Filosofi Angka 60 / Sewidak


Angka 60 dalam Bahasa Jawa tidak disebut nempuluh / enempuluh, melainkan Sewidak atau Suwidak.

Konon penyebutan sewidak ini merupakan kependekan dari ‘Sejatine Wis Wayahe Tindak’. 

Dalam bahasa Bahasa Indonesia kata tersebut berarti ‘Sesungguhnya sudah saatnya untuk pergi’ .

Filosofi makna yang tersimpan di dalamnya yakni saat usia kepala 60, seseorang sudah harus mempersiapkan diri untuk pergi meninggalkan dunia fana ini.

Kebiasaan buruk semasa hidup harus ditinggalkan dan saatnya mencari jalan terang menuju kepada-Nya. Semakin banyak bersyukur, karena usia selebihnya adalah bonus dari Yang Maha Kuasa.

Itulah filosofi dibalik angka Jawa Selawe, Seket, Sewidak yang terbilang unik dan sarat makna.

Sekalipun belum ada litaratur resmi soal penamaan bilangan pada Bahasa Jawa ini. Namun kita bisa melihatnya sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa dalam memaknai kehidupan.

Dibalik penyebutan angka-angka tersebut, terutama angka selawe (25), seket (50) dan swidak (60) dalam Bahasa Jawa, ternyata memiliki pemahaman filosofis yang mendalam tentang perjalanan hidup manusia, seharusnya bisa menjadi pedoman dalam mengarungi kehidupan di dunia fana ini.

Posting Komentar untuk "Filosofi Dibalik Angka Jawa : 25 Selawe, 50 Seket, 60 Sewidak"