Bikin Orang Asing Kepo Dan Coba Makananmu: 9 Faktor Penentu & Cara Praktis untuk Pelaku Usaha





Mau makanan warung, kafe, atau stan pasar malammu dicoba oleh turis atau orang asing yang belum pernah lihat/rasakan? Bukan cuma rasa yang menentukan — banyak faktor psikologis, sosial, dan visual yang membuat seseorang tergoda mencoba sesuatu yang “baru”.

Artikel ini merangkum temuan riset dan survei tentang apa saja yang benar-benar mendorong orang asing untuk mencoba makanan baru, lalu memberikan langkah-langkah praktis yang bisa langsung dipraktikkan pemilik usaha makanan.

Kenapa ini Penting?

Untuk pelaku usaha makanan, mendapatkan pelanggan asing berarti bukan hanya menjual satu porsi — tapi juga membuka peluang promosi mulut ke mulut, review, dan foto Instagram yang bisa menarik lebih banyak pengunjung.



Tetapi banyak makanan lokal yang “unik” justru tidak langsung laku karena hambatan psikologis.

Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi willingness to try, Anda bisa merancang penyajian, komunikasi, dan pengalaman yang menurunkan ketakutan dan meningkatkan rasa penasaran.

Willingness To Try/Alasan Untuk Mencoba


Berikut beberapa faktor utama yang membuat orang asing tertarik mencoba makanan yang belum pernah mereka lihat atau rasakan berdasarkan hasil riset dan survei.

1. Daya tarik sensorik: tampilan, aroma, janji rasa


Visual pertama kali menangkap perhatian. Foto menu yang rapi, plating yang menarik, atau deskripsi rasa yang menggugah (“manis gurih bertekstur renyah”) meningkatkan kemungkinan orang mencoba. Gunakan foto close-up, porsi rapi, dan deskripsi singkat yang menggoda.

2. Keamanan & kebersihan yang terlihat

Orang asing lebih cepat menolak jika terlihat kotor atau tidak higienis.

Tampilkan dapur terbuka bila memungkinkan, gunakan kemasan bersih, label bahan, dan sertakan informasi tentang cara memasak yang aman.



3. Sifat pribadi: novelty-seeking vs food-neophobia


Beberapa orang memang senang coba hal baru; lainnya cenderung takut.

Solusi usaha: targetkan promosi ke segmen yang suka pengalaman (mis. turis petualang, food bloggers) dan sediakan opsi aman bagi yang hati-hati (porsi kecil, varian familiar).

4. Cerita & autentisitas di balik makanan


Orang suka cerita. Menyisipkan asal-usul makanan, tradisi keluarga, atau cara pembuatan unik memberi konteks budaya dan membuat makanan terasa lebih bernilai pengalaman — bukan sekadar “aneh”.

Contoh: “Resep turun-temurun dari Banyuwangi — dimasak pakai daun dan arang, disajikan hangat.”

5. Paparan & sampling (porsi percobaan)


Sampling gratis, porsi mini, atau demo memasak sangat efektif menurunkan rasa takut. Biarkan orang mencicip sedikit dulu — peluang mereka membeli porsi penuh meningkat drastis.

6. Pengaruh sosial & endorsement


Orang meniru orang lain. Visual orang lokal makan dengan lahap, tanda “rekomendasi warga setempat”, atau ulasan influencer meningkatkan kepercayaan.

Gunakan testimoni singkat di menu atau postingan media sosial.

7. Biaya risiko kecil: porsi kecil & harga terjangkau


Beri opsi “trial” dengan harga sangat murah.

Jika konsekuensinya kecil, orang lebih mudah mengambil keputusan coba.



8. Klaim kesehatan & nilai tambah


Label seperti “organik”, “rendah gula”, atau “kaya protein” menarik segmen health-conscious.

Pastikan klaim benar dan mudah dipahami.

9. Menangani rasa jijik (disgust) budaya


Beberapa unsur (tekstur berlendir, serangga, darah) memicu jijik universal.

Jika makanan mengandung elemen tersebut, perlu edukasi: jelaskan tekstur, rasa yang diharapkan, atau berikan varian yang dimodifikasi agar lebih familiar.

Contoh micro-story yang bisa langsung dipasang di menu (30–50 kata)


Nasi Krawu Asli — “Nasi pulen dengan taburan serundeng dan sambal khas Madura; resep keluarga sejak 1965. Cocok untuk yang suka perpaduan gurih-manis dan tekstur renyah.”

Sate Lilit Bali (Mini) — “Potongan kecil, rasa rempah khas Bali, sempurna untuk dicoba sebelum pesan porsi besar. Disajikan hangat, cocok untuk pemula.”

Es Campur Jogja (Sehat) — “Segar, buah lokal, tanpa pemanis buatan — pilihan sehat untuk menyegarkan perjalanan Anda di siang hari.”



Rekomendasi praktis untuk pelaku usaha (ceklist 1-halaman)


Foto menu: gunakan foto close-up dan plating rapi.

Deskripsi: sertakan kata-kata sensorik (renyah, hangat, gurih) dan ukuran porsi.

Hygiene: tampilkan sertifikat/label kebersihan, atau biarkan dapur terlihat.

Sampling: sediakan porsi mini atau paket “coba 3” dengan harga terjangkau.

Storytelling: lampirkan 1–2 kalimat asal cerita pada menu.

Social proof: pajang testimoni singkat atau foto pelanggan lokal yang menikmati.

Varian aman: tawarkan versi “ramah turis” jika makanan asli mengandung elemen asing (mis. tekstur / rasa kuat).

Informasi alergi: cantumkan bahan utama & potensi alergen.

Marketing: dorong pengunjung untuk tag tempatmu di media sosial (beri insentif kecil).

Ingat: orang asing membeli pengalaman, bukan hanya porsi.


Untuk membuat mereka mencoba makanan yang belum pernah dilihat atau dirasakan, fokuslah pada kombinasi tiga hal:



(1) menurunkan risiko (higiene terlihat, porsi kecil, harga terjangkau),

(2) menaikkan daya tarik (tampilan, aroma, cerita), dan

(3) menggunakan pengaruh sosial (testimoni, sampling, influencer).

Implementasi sederhana seperti porsi “trial”, deskripsi menu yang memikat, dan tampilan yang bersih sering kali memberi lonjakan signifikan pada willingness to try.


Halaman Selanjutnya :



Posting Komentar untuk "Bikin Orang Asing Kepo Dan Coba Makananmu: 9 Faktor Penentu & Cara Praktis untuk Pelaku Usaha"

close