SNACKPACKING mulai menjadi salah satu gaya wisata yang menarik perhatian di Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda. Berbeda dari pola liburan yang berfokus pada tempat wisata populer, tren ini menjadikan berburu jajanan lokal, menjelajahi pasar tradisional, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat sebagai bagian utama dari perjalanan.
Bagi para pelakunya, perjalanan bukan semata-mata soal mengumpulkan foto dari destinasi terkenal. Ada pengalaman lain yang dicari: menemukan rasa baru, mendengar cerita dari pedagang, masuk ke sudut kota yang jarang diperhatikan, dan pulang membawa pengalaman yang tidak bisa diperoleh hanya dari tempat wisata mainstream.
Kementerian Pariwisata bahkan menyebut snackpacking sebagai salah satu tren perjalanan yang berkembang di kalangan generasi muda Indonesia. Konsepnya adalah bepergian dengan menjadikan eksplorasi jajanan lokal, khususnya di pasar tradisional, sebagai tujuan utama perjalanan.
Apa Itu Snackpacking?
Secara sederhana, snackpacking adalah wisata sambil berburu jajanan lokal.
Istilah ini merupakan gabungan dari kata snack dan backpacking. Namun, dalam konteks pariwisata, snackpacking bukan berarti sekadar membawa makanan ringan di dalam tas ketika bepergian.
Snackpacking adalah cara menjadikan kuliner lokal sebagai bagian penting dari itinerary perjalanan. Wisatawan dapat berpindah dari satu pasar ke pasar lain, mencoba jajanan kaki lima, mengunjungi toko roti, masuk ke warung kelontong, atau mencari makanan tradisional yang sulit ditemukan di daerah asal.
DetikTravel mencatat bahwa perjalanan kini tidak selalu berorientasi pada destinasi wisata populer. Bagi sebagian wisatawan, makanan dan jajanan khas justru menjadi sarana untuk mengenal suasana serta karakter suatu daerah.
Dengan demikian, tujuan perjalanan berubah dari sekadar “melihat tempat” menjadi “mengalami sebuah tempat.”
Mengapa Snackpacking Makin Digemari?
Salah satu faktor yang membuat snackpacking berkembang adalah perubahan cara generasi muda menikmati perjalanan.
Data yang dikutip detikTravel dari American Express Global Travel Trends Report 2026 menunjukkan bahwa 89 persen responden Millennials dan Gen Z menganggap menikmati camilan lokal penting ketika bepergian ke luar negeri. Survei yang sama juga mencatat bahwa 69 persen responden memilih street food untuk mencari camilan lokal, sementara 53 persen mengunjungi bakery dan 50 persen mendatangi toko kelontong.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengalaman kuliner tidak selalu dicari di restoran atau pusat perbelanjaan.
Justru tempat yang sederhana dapat menjadi bagian menarik dari perjalanan.
1. Mencari pengalaman autentik
Pasar tradisional menghadirkan suasana yang berbeda dari destinasi wisata yang sudah dikemas secara formal. Ada aroma makanan, suara pedagang, aktivitas jual beli, dan percakapan sehari-hari.
Kementerian Pariwisata menyebut pasar tradisional sebagai ruang sosial yang menyimpan cerita, interaksi, dan identitas kuliner suatu daerah. Snackpacking memberi wisatawan kesempatan untuk merasakan sisi tersebut secara lebih dekat.
2. Lebih ramah di kantong
Snackpacking juga relatif mudah disesuaikan dengan anggaran.
Kementerian Pariwisata menyebut kisaran Rp50.000–Rp100.000 sudah dapat digunakan untuk mencoba sejumlah jajanan lokal dalam satu perjalanan.
Tentu saja jumlah sebenarnya bergantung pada kota, jenis makanan, jumlah yang dicicipi, dan transportasi yang digunakan.
3. Menemukan makanan yang tidak ada di rumah
Salah satu kesenangan snackpacking adalah menemukan makanan yang belum pernah dicoba.
Sebuah makanan yang terlihat familiar pun dapat memiliki perbedaan rasa, bahan, bentuk, atau cara penyajian ketika ditemukan di kota lain. Karena itu, kegiatan berburu jajanan dapat terasa seperti sebuah petualangan kecil.
4. Cocok dijadikan konten
Snackpacking juga sangat sesuai dengan budaya media sosial.
Jajanan yang unik, pasar yang ramai, proses memasak, reaksi ketika mencoba makanan, hingga obrolan dengan pedagang dapat menjadi bahan konten untuk TikTok, Instagram, maupun YouTube.
DetikTravel mencatat bahwa 82 persen Millennials dan Gen Z yang disurvei bersedia melakukan sesuatu yang tidak biasa ketika bepergian apabila hal itu menghasilkan cerita yang bagus, sementara 86 persen mengatakan pertemuan tak terduga dengan penduduk lokal atau orang baru dapat meninggalkan kesan mendalam.
Dengan kata lain, dalam snackpacking, cerita perjalanan sama pentingnya dengan makanan yang dicicipi.
Snackpacking Bukan Sekadar Wisata Kuliner
Sekilas, snackpacking memang mirip wisata kuliner. Namun ada perbedaan menarik.
Wisata kuliner bisa saja berfokus pada daftar restoran atau makanan tertentu.
Sementara snackpacking lebih menekankan proses eksplorasi.
Wisatawan berjalan menyusuri kawasan, mencari jajanan, berpindah dari satu penjual ke penjual lainnya, dan membiarkan perjalanan berkembang berdasarkan apa yang ditemukan di sepanjang jalan.
CNN Indonesia menggambarkan snackpacking sebagai cara baru menjelajahi kota melalui pasar tradisional dan jajanan lokal. Pasar tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga menjadi ruang sosial yang memperlihatkan sejarah, interaksi masyarakat, dan identitas kuliner sebuah daerah.
Karena itu, sebuah perjalanan snackpacking idealnya tidak hanya menghasilkan daftar makanan, tetapi juga cerita tentang kota yang dikunjungi.
Dampak Snackpacking bagi UMKM dan Ekonomi Lokal
Tren ini juga membuka peluang bagi pelaku UMKM kuliner.
Wisatawan yang datang ke pasar atau sentra jajanan akan bertransaksi langsung dengan pedagang lokal. Makanan yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar dapat memperoleh perhatian dari wisatawan yang datang dari daerah lain.
Kementerian Pariwisata menilai perkembangan snackpacking dapat membuka peluang bagi sektor pariwisata melalui penguatan pasar tradisional, pemberdayaan UMKM, pengembangan wisata kuliner, dan promosi produk lokal.
Hal ini penting karena pengalaman wisata tidak hanya menciptakan kenangan bagi wisatawan, tetapi juga dapat menciptakan perputaran ekonomi di tingkat lokal.
Dalam konteks yang lebih luas, Kementerian Pariwisata juga menekankan bahwa transaksi wisatawan untuk akomodasi, kuliner, dan produk UMKM turut menggerakkan ekonomi daerah.
Cara Snackpacking Maksimal di Satu Kota
Lalu bagaimana agar satu kunjungan ke sebuah kota tidak berakhir hanya dengan mencoba satu atau dua makanan?
Kuncinya bukan mengejar sebanyak-banyaknya makanan, tetapi mengatur eksplorasi secara cerdas.
1. Tentukan tema snackpacking
Jangan memulai perjalanan dengan daftar makanan yang terlalu panjang.
Pilih satu tema terlebih dahulu.
Misalnya:
“Jajanan tradisional pasar.”
atau:
“Kuliner legendaris di pusat kota.”
atau:
“Makanan di bawah Rp20 ribu.”
Tema membuat perjalanan lebih fokus dan memudahkan Anda menentukan lokasi yang harus dikunjungi.
2. Petakan kota berdasarkan kawasan
Ini adalah salah satu cara paling efektif.
Daripada berpindah jauh hanya demi satu makanan, pilih beberapa titik yang berada dalam satu kawasan.
Misalnya:
Pasar → gang kuliner → warung lama → toko oleh-oleh → kedai lokal.
Setelah satu kawasan selesai, baru pindah ke kawasan berikutnya.
Dengan demikian, waktu dan biaya transportasi dapat ditekan, sementara jumlah tempat yang bisa dieksplorasi meningkat.
3. Mulailah dari pasar tradisional
Pasar sering menjadi titik awal yang ideal karena dalam satu lokasi wisatawan dapat menemukan banyak jenis makanan sekaligus.
Cari:
jajanan pasar
gorengan khas
kue tradisional
minuman lokal
makanan sarapan
makanan ringan untuk dibawa pulang
Pasar juga memberi kesempatan untuk melihat makanan yang benar-benar dikonsumsi masyarakat sehari-hari, bukan hanya makanan yang sengaja dipasarkan kepada wisatawan.
4. Jangan langsung membeli dalam porsi besar
Ini salah satu prinsip terpenting dalam snackpacking.
Cicipi sedikit, lalu lanjutkan.
Kalau langsung membeli satu porsi besar di setiap tempat, Anda akan cepat kenyang sebelum mencapai lokasi berikutnya.
Untuk perjalanan berburu makanan, porsi kecil atau berbagi dengan teman biasanya lebih efektif.
Tujuannya bukan makan sebanyak mungkin, melainkan mencoba sebanyak mungkin pengalaman.
5. Gunakan sistem “3 kategori”
Agar eksplorasi lebih menarik, setiap kota bisa dibagi menjadi tiga kategori:
Wajib coba — makanan yang dianggap identitas daerah.
Hidden gem — makanan sederhana yang tidak terlalu terkenal.
Unexpected find — makanan yang tidak ada dalam daftar tetapi ditemukan secara spontan.
Kategori ketiga justru sering menghasilkan cerita perjalanan yang paling menarik.
6. Berbicara dengan pedagang
Jangan hanya membeli lalu pergi.
Coba tanyakan:
“Sudah berapa lama jualan di sini?”
“Ini makanan khas daerah sini?”
“Resepnya dari keluarga?”
“Biasanya orang lokal makan ini kapan?”
Pertanyaan sederhana dapat membuka cerita yang tidak akan Anda temukan di Google Maps.
Dalam konsep snackpacking, pedagang bukan hanya penjual makanan, tetapi juga sumber cerita tentang kota tersebut.
7. Cari waktu terbaik
Waktu sangat menentukan.
Pasar tradisional sering mempunyai suasana yang berbeda antara pagi, siang, sore, dan malam.
Karena itu, jangan membuat itinerary berdasarkan lokasi saja. Buat berdasarkan waktu terbaik untuk setiap pengalaman kuliner.
Contohnya:
Pagi: sarapan dan jajanan pasar
Siang: street food atau makanan ringan
Sore: jajanan tradisional dan kopi
Malam: pasar malam atau kuliner malam
Dengan cara ini, satu hari bisa terasa seperti empat pengalaman yang berbeda.
8. Sisakan ruang untuk spontanitas
Jangan membuat itinerary terlalu padat.
Dalam snackpacking, justru hal yang tidak direncanakan bisa menjadi bagian paling menarik.
Mungkin Anda melihat antrean panjang di sebuah warung.
Mungkin mencium aroma makanan dari sebuah gang.
Atau seorang pedagang menawarkan makanan yang belum pernah Anda dengar namanya.
Berhenti dan cari tahu.
Itulah semangat utama snackpacking: perjalanan tidak selalu harus sepenuhnya dikendalikan.
9. Buat anggaran khusus jajanan
Misalnya Anda menyediakan:
Rp100.000 untuk snackpacking.
Jangan langsung menghabiskan semuanya di tempat pertama.
Bisa dibagi:
Rp20.000 — sarapan
Rp20.000 — jajanan pasar
Rp20.000 — street food
Rp20.000 — hidden gem
Rp20.000 — oleh-oleh
Besaran tersebut tentu fleksibel. Yang penting adalah menyediakan batas agar perjalanan tetap menyenangkan tanpa pengeluaran yang tidak terkendali.
10. Catat “peta rasa” kota
Setiap kali mencoba makanan, catat secara sederhana:
Nama makanan — lokasi — harga — rasa — cerita — apakah ingin mencoba lagi.
Setelah selesai, Anda akan memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar foto.
Anda memiliki peta rasa sebuah kota.
Peta tersebut bahkan dapat menjadi panduan bagi perjalanan berikutnya.
Snackpacking Bisa Menjadi Cara Baru Mengenal Indonesia
Indonesia mempunyai modal besar untuk mengembangkan tren ini.
Kementerian Pariwisata telah menyoroti berbagai pasar di Indonesia sebagai contoh pengalaman snackpacking, antara lain Pasar 16 Ilir di Palembang, Pasar Santa di Jakarta, Pasar Terapung Lok Baintan di Banjarmasin, Pasar Ngasem di Yogyakarta, dan Pasar Hamadi di Jayapura. Masing-masing menawarkan kombinasi berbeda antara makanan, pasar, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal.
Artinya, hampir setiap kota sebenarnya memiliki potensi untuk membuat versi snackpacking-nya sendiri.
Tidak harus selalu makanan mahal atau restoran terkenal.
Bahkan makanan sederhana yang hanya dijual oleh satu keluarga selama puluhan tahun bisa menjadi daya tarik.
Di situlah kekuatan snackpacking.
Dari “Wisata ke Kota” Menjadi “Mengenal Kota”
Pada akhirnya, snackpacking menunjukkan bahwa cara menikmati perjalanan sedang mengalami perubahan.
Wisatawan tidak selalu membutuhkan destinasi yang spektakuler.
Kadang-kadang yang dicari justru sesuatu yang sederhana:
sepotong kue dari pasar tradisional,
semangkuk makanan yang dijual sejak pagi,
segelas minuman khas,
atau percakapan singkat dengan pedagang yang telah berjualan selama puluhan tahun.
Snackpacking mengajak kita berhenti menjadi sekadar pengunjung dan mulai menjadi penjelajah.
Karena sebuah kota tidak hanya dapat dikenali dari monumen, gedung, pantai, atau tempat wisatanya.
Sebuah kota juga bisa dikenali dari apa yang dimakan masyarakatnya, siapa yang membuatnya, bagaimana makanan itu diwariskan, dan cerita yang berada di balik setiap jajanan.
Dan mungkin, pada perjalanan berikutnya, pertanyaan yang paling menarik bukan lagi:
“Di kota ini ada tempat wisata apa?”
melainkan:
“Di kota ini, ada rasa apa yang belum pernah saya coba?”



Posting Komentar untuk "Snackpacking di Indonesia: Tren Wisata Gen Z Berburu Jajanan Lokal dan Tips Menjelajah Kota"