-->

Perbedaan Antara Stres Dan Depresi

Perbedaan stres dan depresi - Hampir setiap orang pernah mengalami stres. Stres adalah hal yang normal dan justru baik bagi Anda dalam situasi tertentu. Ketika Anda sedang dilanda stres, misalnya karena tumpukan pekerjaan atau karena Anda sedang merencanakan pernikahan, Anda akan semakin terpicu untuk fokus pada masalah dan meningkatkan kinerja. Namun, Anda perlu berhati-hati karena kalau sudah terlewat stres, Anda bisa jadi menderita depresi. Bahkan pada beberapa kasus, depresi bisa muncul tanpa didahului oleh stres.

Beda antara stres dan depresi.
Ilustrasi (sumber : Totalwellness.club)
Stres dan depresi sering kali digunakan oleh awam sebagai istilah yang dapat dipertukarkan. Padahal, kedua hal ini memiliki perbedaan mendasar. Cara kerja stres dan depresi tidaklah sama, maka penanggulangannya pun akan berbeda pula. Jika tidak ditangani dengan benar, depresi bisa membahayakan kesehatan jiwa, jasmani, hingga nyawa. Jadi, penting bagi Anda untuk mengenali perbedaan stres dan depresi agar bisa merawat diri dengan tepat sebelum terlambat.

Apa Bedanya Stres Dan Depresi ?
Stres biasanya dimulai dari rasa kewalahan akibat banyaknya tekanan dari luar dan dalam diri seseorang yang telah berlangsung cukup lama. Stres bisa mendorong Anda untuk semakin bersemangat menghadapi tantangan, tapi juga bisa mematahkan semangat Anda. Ini karena setiap orang memiliki mekanisme yang berbeda-beda dalam menghadapi stres.

Baca Juga:


Ketika Anda dilanda stres, tubuh Anda membaca adanya serangan atau ancaman. Sebagai mekanisme perlindungan diri, tubuh akan memproduksi berbagai hormon dan zat-zat kimia seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin. Akibatnya, Anda akan merasakan dorongan energi dan peningkatan konsentrasi supaya Anda bisa merespon sumber tekanan secara efektif. Tubuh juga akan secara otomatis mematikan fungsi-fungsi tubuh yang sedang tidak diperlukan, misalnya pencernaan. Namun, apabila stres muncul pada saat-saat yang tidak diinginkan, darah akan mengalir ke bagian-bagian tubuh yang berguna untuk merespon secara fisik seperti kaki dan tangan sehingga fungsi otak menurun. Inilah sebabnya banyak orang yang justru sulit berpikir jernih saat diserang stres.

Dr. Steve Peters, seorang profesor dan psikiater dari Sheffield Medical School, memiliki daftar hal-hal yang mungkin sering terjadi pada diri Anda tanpa disadari, yang sebenarnya merupakan pertanda hal lainnya.

Hal-hal di bawah ini seringkali berlalu begitu saja dan dianggap normal menimpa diri kita, namun ternyata jauh di balik itu, hal-hal di bawah ini menandakan bahwa sebenarnya kita sedang stres dan terganggu secara emosional. Apa saja tanda-tanda stress tersebut?

1. Merasa terlalu emosional
Dalam waktu yang senggang, sering kali kita memikul banyak beban pikiran dan masalah di kepala, hingga semuanya turun ke perasaan dan membuat kita menjadi emosional bahkan menangis. Namun, hal tersebut sering kita anggap sebagai suatu yang normal, hanya sekadar keadaan diri yang sedang rapuh.
Jangan meremehkan kondisi seperti itu. Hal ini ternyata bisa menjadi cikal bakal gangguan emosional berkepanjangan pada diri Anda.

2. Lembur padahal tak perlu
Dalam hal ini, lembur bukan hanya diartikan sebagai kerja melewati batas waktu normal, karena hal tersebut sifatnya adalah sebuah kewajiban. Namun, beberapa orang memilih untuk tetap tinggal di kantor dan menunda pulang karena satu dan lain hal yang sifatnya pribadi.

Kini lembur sering dijadikan sebuah aktivitas yang ‘diniatkan’. Maksudnya, banyak orang yang memilih lembur karena seakan hal tersebut dapat dijadikan pelarian atas beberapa hal yang ingin dihindari, seperti masalah di rumah, masalah hubungan, mencoba show off pada atasan, dan lain-lain. Memang hal tersebut terlihat seperti jalan pintas untuk mencegah stres, namun siapa sangka bahwa lembur justru mendatangkan stress dan gangguan emosional?

Intinya, lembur yang seperti ini hanya berperan sebagai pelarian dari stress yang kemudian akan mendatangkan stress lebih dalam. Maka dari itu, berpikirlah dua kali jika Anda memaksakan lembur saat Anda sedang memikul banyak pikiran yang sifatnya personal.

3. Sensitif/cepat marah
Akan ada momen dalam hidup kita di mana kita sangat mudah tersinggung. Hal-hal kecil yang mengusik kenyamanan kita bisa kita balas dengan amarah yang tidak sebanding. Dan buruknya, hal ini sering kita tumpahkan justru kepada orang-orang terdekat, atau orang-orang yang kita sayangi. Hal ini jelas menggambarkan bahwa kita sedang stress dan terganggu stabilitas emosinya.

Bagi para atasan, hati-hati dengan gejala ini. Staff atau bawahan jangan selalu dijadikan sasaran. Karena, dampaknya akan lebih buruk dari apa yang Anda bayangkan. Mengontrol diri dalam keadaan seperti ini memang merupakan tantangan yang cukup sulit bagi kita, namun  saat semua sudah dalam kontrol, maka hal baik akan datang pada diri kita.

4. Mood swing
Mood swing adalah kondisi di mana jarak antara kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan terasa begitu dekat. Ketiga hal tersebut terjadi bergantian secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Jika ini terjadi pada Anda, mungkin ada yang salah dengan Anda.

Steve Peters memiliki beberapa solusi untuk Anda yang mungkin atau terlanjur berada dalam kondisi seperti ini. Bicaralah. Cobalah untuk berbagi dan menumpahkan perasaan Anda pada seseorang yang Anda pikir dapat memberi sebuah perspektif lain dalam memandang hidup, akan lebih baik jika orang ini dirasa dapat menjadi solusi atau memiliki solusi untuk masalah-masalah yang sedang Anda hadapi. Kemudian, hal ini juga dapat membuka dan menunjukkan apa yang terjadi pada diri kita kepada diri kita sendiri. Maksudnya, terkadang dengan berbicara dengan orang lain kita baru sadar apa yang sedang terjadi pada diri kita.

5. Hilang tujuan
Hidup dengan memiliki tujuan jelas baik untuk diri kita. Kita akan menjalani hari-hari penuh dengan percaya diri dan merasa memiliki harga diri. Namun, apa yang terjadi saat yang menimpa diri kita adalah yang sebaliknya, Anda merasa tidak punya tujuan.

Kesenangan bisa kita dapatkan saat kita dapat mengatasi sebuah tujuan, sekecil apapun tujuan tersebut. Maka, bisa dikatakan bahwa saat kita memiliki target, maka akan ada kesenangan kesenangan yang akan kita raih di depan. Berarti, jika kita merasa sedang tidak ada yang dituju, maka sirna pula kesenangan yang menjanjikan. Hal tersebut mengarahkan kita pada stress dan gangguan emosional.

6. Selalu merasa tidak dihargai
Jika seseorang merasa segala perlakuannya tidak dihargai, bahkan jika pada kenyataannya tidak demikian, maka orang tersebut bisa jadi sedang terganggu masalah psikologis. Kemudian, merasa tidak dihargai dapat berdampak pada spektrum emosi lainnya seperti frustrasi, amarah, rendah diri, bahkan hingga hilangnya kepercayaan diri.

Hal yang paling tepat dilakukan adalah mengambil alih mind set tersebut dengan berpikir positif. Karena, keadaan seperti itu tidak bisa ditolong siapapun kecuali oleh orang yang mengontrol pikiran tersebut.

7. Selalu ingin memegang kendali
Dikarenakan gangguan di dalam diri kita, kita terpacu untuk mengendalikan lingkungan di luar diri kita. Kecenderungan tersebut amat lumrah terjadi. Intinya, kita berusaha sebagaimana mungkin untuk mengubah semua hal menjadi seperti apa yang kita inginkan.


 Apa Itu Depresi ?

Berbeda dengan stres, depresi adalah sebuah penyakit mental yang berdampak buruk pada suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi penderitanya.

Depresi adalah penyakit mental yang ditandai dengan perasaan sedih yang intens. Anda juga mungkin merasa tak berdaya, putus asa, dan tidak berharga. Tidak hanya mempengaruhi Anda, depresi juga akan mengubah hubungan Anda dengan keluarga dan kerabat.

Depresi memiliki istilah medis yaitu “depressive disorder,” atau “clinical depression.” Depresi ini merupakan penyakit nyata dan bukan merupakan tanda kelemahan seseorang maupun cacat karakter.

Depresi bukanlah keadaan yang wajar ditemui seperti stres atau panik. Orang yang terserang depresi biasanya akan merasa hilang semangat atau motivasi, terus-menerus merasa sedih dan gagal, dan mudah lelah. Kondisi ini bisa berlangsung selama enam bulan atau lebih. Maka, orang yang menderita depresi biasanya jadi sulit menjalani kegiatan sehari-sehari seperti bekerja, makan, bersosialisasi, belajar, atau berkendara secara normal. Siapa pun bisa terserang depresi, terutama jika ada riwayat depresi dalam keluarga terdekat Anda. Penelitian juga menunjukkan bahwa wanita lebih berisiko terserang depresi daripada pria.

Namun ada satu hal yang harus diingat bahwa depresi dapat diobati dan banyak orang yang merasa lebih baik setelah menjalani pengobatan.

Penyebab Depresi

Tidak ada penyebab pasti dari depresi. Hal ini biasanya merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor. Banyak faktor yang dapat memicu depresi, termasuk genetika, biologi dan kimia otak, dan peristiwa kehidupan seperti trauma, kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang gagal, pengalaman anak usia dini, atau situasi stres.

Pada beberapa kasus, kondisi kesehatan lainnya juga dapat menyebabkan depresi, terutama gangguan kronis seperti seperti diabetes, kanker, penyakit jantung, dan penyakit Parkinson.

Jenis depresi?

Tergantung tingkat keparahannya, depresi terbagi menjadi:

Major depression (clinical depression): Depresi berat yang ditandai dengan gejala depresi konstan. Gejala yang menyerang bisa parah ataupun ringan, dan biasanya berlangsung selama sekitar enam bulan. Depresi berat merupakan kondisi berulang. Namun pada beberapa kasus, orang bisa saja mengalaminya hanya sekali seumur hidup.

Dysthymia: Dysthmia memiliki gejala depresi ringan yang cenderung bertahan lama (sedikitnya dua tahun). Jika Anda memiliki dysthymia, suasana hati Anda mungkin buruk dan Anda mungkin terbiasa berpikir bahwa sifat tersebut merupakan “jati diri Anda”. Gejala depresi ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat mencegah Anda menikmati hidup seutuhnya.

Persistent depressive disorder: Jenis depresi ini setidaknya bertahan selama dua tahun dan gejalanya mirip dengan major depression. Anda bisa saja memiliki gejala ringan atau sedang dengan periode gejala yang lebih singkat.

Psychotic depression: Jenis depresi ini adalah kombinasi dari depresi dan psikotik. Selain suasana hati yang rendah saat mengalami depresi, orang dengan psychotic depression mungkin kehilangan kesadaran diri atas realitas dengan memercayai hal-hal yang orang lain tidak bisa dengar atau lihat.

Postpartum depression: Jenis depresi ini terjadi pada ibu yang baru setelah melahirkan. Postpartum depression jauh lebih serius daripada baby blues. Sebanyak 70-80% ibu baru terserang baby blues, sementara hanya 10-15% ibu yang menderita postpartum depression, ketika gejalanya lebih intens dan bertahan lebih lama.

Bipolar disorder (manic depression): Seseorang akan mengalami depresi bergantian dengan manic depression. Siklus ini dapat menyebabkan perilaku impulsif, hiperaktif, dan bicara cepat.

Seasonal affective disorder (SAD): Jenis depresi ini sering terjadi pada musim gugur atau musim dingin ketika hari menjadi lebih pendek dan bertahan sampai hari cerah di musim semi atau awal musim panas. Beberapa orang mungkin mengalami SAD untuk waktu yang singkat di musim panas.

Siapa saja yang berisiko depresi?

Beberapa faktor dalam hidup Anda dapat meningkatkan risiko depresi. Anda mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena depresi jika Anda mengalami:
  • Fase kehidupan yang sulit, misalnya mengalami pengangguran, perceraian, kemiskinan, meskipun peristiwa ini dapat bertahan lama, depresi berat biasanya hanya terjadi pada orang yang memang memiliki kecenderungan akan gangguan itu.
  • Kepribadian. Anda mungkin merasa kesulitan untuk mengatasi stres dalam hidup, atau sulit beradaptasi dengan situasi baru.
  • Faktor genetik. Orang yang memiliki saudara dengan depresi menempatkan diri mereka dalam risiko yang lebih tinggi.
  • Riwayat Anda. Trauma masa kecil dapat mengubah cara Anda menanggapi rasa takut dan stres. Peristiwa lain dalam hidup seperti usaha bunuh diri, atau segala bentuk pelecehan – seksual, fisik atau substansi.
  • Beberapa obat resep dapat menyebabkan depresi, termasuk kortikosteroid, beberapa beta-blocker, interferon, dan reserpine.
  • Terlalu sering menggunakan alkohol dan amfetamin dapat memicu depresi.
  • Cedera kepala masa lalu.
  • Orang dengan riwayat depresi berat dapat mengalami kekambuhan.


Gejala Depresi

Tanda-tanda depresi jauh lebih rumit daripada gejala stres. Kemunculannya pun bisa bertahap sehingga sulit untuk benar-benar menyadari kapan depresi pertama kali menyerang. Berikut adalah berbagai gejala depresi yang biasanya terjadi.

Menarik diri dari lingkungan sosial dan keluarga
Merasa sedih seolah-olah tidak ada harapan lagi
Hilang semangat, motivasi, energi, dan stamina
Sulit mengambil keputusan
Makan lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya
Tidur lebih sebentar atau lama dari biasanya
Sulit berkonsentrasi
Sulit mengingat-ingat
Merasa bersalah, gagal, dan sendirian
Berpikiran negatif secara terus-menerus
Mudah kecewa, marah, dan tersinggung
Sulit menjalani kegiatan sehari-hari
Hilang minat pada hal-hal yang biasanya dinikmati
Adanya pikiran untuk bunuh diri

Sedangkan pada seorang remaja, ada beberapa petunjuk untuk mengenali remaja yang sedang depresi, diantaranya :

1. Mudah marah, sedih, merasa kosong, dan beranggapan bahwa hidup tidak berarti.
2. Kehilangan minat dalam hal olahraga, hobi, atau kegiatan yang biasanya mereka nikmati. Menarik diri dari teman-teman dan keluarga, serta memiliki masalah dalam berhubungan dengan orang lain.
3. Adanya perubahan nafsu makan. Berat badan menurun secara berangsur-angsur.
4. Sering melakukan kegiatan yang berlebihan di waktu malam, sehingga menyebabkan tidur yang kurang. Pola tidur tidak normal, kadang berlebih dan kadang kurang, diikuti kesulitan bangun di pagi hari.
5. Mengalami kelambatan dalam segi fisik, senang mondar-mandir secara berlebihan atau melakukan perilaku yang repetitif atau berulang-ulang.
6. Kehilangan energi, menarik diri dari lingkungan sosial, menunjukkan tanda-tanda kebosanan, dan tidak mau melakukan kegiatan yang biasa dilakukan.
7. Membuat komentar yang kritis dan sinis terhadap diri mereka sendiri. Memiliki masalah perilaku di sekolah atau di rumah dan terlalu sensitif terhadap penolakan.
8. Performa yang buruk di sekolah, sering tertidur dan tidak berkonsentrasi di kelas, serta sering tidak masuk sekolah.
9. Seringkali diikuti dengan keluhan fisik, seperti sakit kepala dan sakit perut. Sering berkunjung ke UKS sekolah.
10. Menulis tentang kematian, membuang barang-barang favoritnya, dan sering mengatakan bahwa orang lain lebih baik tanpanya.

Depresi dapat memicu tindakan bunuh diri. Tanda-tanda peringatan bunuh diri termasuk:
  • Berbicara tentang tindakan bunuh diri atau tindakan merugikan diri sendiri lainnya.
  • Mengaku putus asa atau merasa terjebak.
  • Merasa dekat dengan kematian.
  • Bertindak ceroboh, seolah-olah mereka memiliki keinginan untuk mati (misalnya menerobos lampu merah).
  • Menelepon atau mengunjungi orang untuk mengucapkan selamat tinggal.
  • Mengatakan hal-hal seperti “semua orang akan merasa lebih baik tanpa aku” atau “aku ingin pergi”.
  • Perubahan tiba-tiba dari pribadi yang sangat tertekan menjadi pribadi yang tenang dan bahagia.
Anda juga mungkin melihat depresi melalui bahasa tubuh:
  • Terlihat sengsara, mata menangis, alis berkerut, mulut cemberut.
  • Kemerosotan postur tubuh, berkurangnya kontak mata dan ekspresi wajah.
  • Gerakan tubuh tidak banyak, dan ada perubahan pada nada bicara (misalnya suara lembut dan cenderung menggunakan kata-kata monosilabik).
  • Suram, pesimis, pasif, lesu, tertutup, kritis terhadap diri dan orang lain, serta senang mengeluh.

Cara menangani depresi


Jika ternyata Anda mengalami depresi, Anda harus segera mengambil tindakan. Depresi merupakan penyakit yang bisa disembuhkan kalau penanganannya tepat. Namun, depresi tidak bisa disembuhkan oleh Anda seorang diri. Anda membutuhkan bantuan orang lain. Cobalah untuk menjalani sesi konseling bersama psikolog atau psikiater. Anda juga mungkin akan dirujuk untuk menjalani berbagai terapi seperti Terapi Kognitif Perilaku (CBT) dan psikoterapi.

Untuk membantu Anda mengatasi kegelisahan atau tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut, pengobatan dengan antidepresan dan obat penenang bisa menjadi solusinya. Obat tidur juga mungkin ditawarkan bagi Anda yang mengalami insomnia atau sulit tidur. Ingatlah bahwa terserang depresi bukan kesalahan Anda, tapi Anda bisa melawannya. Ceritakan situasi Anda dengan jujur pada orang-orang terdekat Anda agar mereka bisa mendukung dan membantu Anda sembuh lebih cepat.

Orang yang mengalami depresi biasanya sembuh lebih cepat dengan bantuan dan dukungan dari orang lain. Anda harus membicarakan kondisi Anda kepada anggota keluarga dan teman-teman sembari melakukan beberapa tips di bawah ini:

  • Patuhi rencana pengobatan Anda. Anda harus mencoba untuk tidak melewatkan setiap pemeriksaan atau dosis obat bahkan ketika gejala berhenti. Pastikan Anda mengonsumsi antidepresan sesuai anjuran.
  • Pelajari informasi seputar depresi. Dorong keluarga Anda untuk belajar mengenai depresi untuk membantu mereka memahami dan mendukung Anda. Dengan memahami kondisi Anda, mereka dapat membantu Anda untuk menghindari pemicu dan memotivasi Anda untuk tetap pada rencana pengobatan.
  • Hindari konsumsi alkohol dan narkoba.
  • Konsumsi makanan sehat, aktif secara fisik, dan tidur cukup untuk memastikan kebugaran tubuh.
  • Buatlah catatan dalam jurnal. Anda dapat mengekspresikan rasa sakit, marah, takut atau emosi lainnya melalui tulisan.
  • Temukan support group, kelompok konseling dan kelompok lainnya untuk membantu meringankan depresi. Kelompok agama mungkin juga menawarkan bantuan untuk masalah kesehatan mental.
  • Pelajari cara untuk bersantai dan mengelola stress, seperti meditasi, relaksasi otot progresif, yoga dan tai chi.
  • Susun rencana kegiatan sehari-hari. Anda mungkin terbantu dengan adanya daftar tugas harian, catatan tempel sebagai pengingat agar rencana Anda lebih terorganisir. Jangan memaksakan diri Anda untuk melakukan terlalu banyak pekerjaan.
  • Jangan membuat keputusan penting ketika Anda sedang dalam kondisi di bawah. Hindari pengambilan keputusan ketika Anda merasa tertekan, karena Anda mungkin tidak berpikir dengan jernih.
Walaupun merupakan kondisi serius, depresi tetap dapat diobati. Hubungi dokter atau terapis jika Anda menemukan adanya perubahan gejala atau perasaan Anda. Mintalah kerabat atau teman untuk membantu Anda memantau gejala-gejala depresi.

Apa bahayanya jika depresi tidak ditangani?

Jangan menyepelekan atau membiarkan depresi begitu saja karena dampaknya sangat berbahaya. Berbagai studi telah menemukan hubungan yang sangat erat antara depresi dengan penyakit hati dan gagal jantung. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menderita depresi memiliki kemungkinan 58% lebih banyak terserang obesitas akibat perubahan pola makan yang drastis dan kurang berolahraga. Jika tidak ditangani secara serius, depresi di usia muda bisa menurunkan kemampuan otak serta meningkatkan risiko Alzheimer dan stroke.

Dalam beberapa kasus, mereka yang sudah terserang depresi berat cenderung mencoba untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Maka, sudah saatnya Anda menanggapi stres dan depresi dengan serius. Kenali perbedaannya dan segera tangani stres dan depresi sebelum terlambat. (Hellosehat.com)
loading...

Labels: Depresi, Psikologi, Stress

Thanks for reading Perbedaan Antara Stres Dan Depresi. Please share this article.

Share:

0 Komentar untuk "Perbedaan Antara Stres Dan Depresi"